Home

Operasi Penyerangan AI Immatul Kuffar

Leave a comment

Tak hanya JI di Mantiqi II yang sibuk mengurus program jihad di Maluku, Mantiqi 1 punya program serupa. Di Malaysia mereka melakukan kampanye soal Ambon misalnya dengan menerbitkan buku informasi berjudul ‘Peristiwa Ambon’. Buku ini didominasi berbagai gambar kerusuhan Maluku seperti perusakan-perusakan masjid dan korban-korban umat Islam. Mereka juga membuat semacam yayasan amal bernama Al Ihsan untuk menggalang dana masyarakat muslim Malaysia untuk membantu umat Islam di sana. Mantiqi 1 juga mengirim para kadernya ke Maluku, termasuk di antaranya Dr. Azahari Husein, seorang ahli bom JI. Dosen Universitas Sains Malaysia, Johor itu sempat mengajar di kamp pelatihan Waymurot, Pulau Bum.109 Di luar itu, diam-diam Mantiqi 1 juga mempersiapkan operasi rahasia di Indonesia. Disebut operasi rahasia karena dikerjakan oleh tim-tim kecil dan dilaksanakan tanpa koordinasi dengan Mantiqi II.

Mereka berani melakukan operasi rahasia ini setelah Abdullah Sungkar, Amir JI yang juga tokoh yang mereka segani meninggal dunia pada akhir 1999. Setelah wafatnya Sungkar tak ada lagi orang yang ditakuti oleh Hanbali dan kawan-kawan. Apalagi penggantinya adalah Abu Bakar Ba’asyir, seorang pimpinan yang dianggap lemah oleh banyak orang JI. Akibatnya mereka merasa lebih bebas melakukan apapun yang mereka suka. Apalagi Hanbali dan kawan-kawan yang sangat terpengaruh oleh pemikiran thoifah mansyurah dari Abu Qotadah Al Falisthini menganggap bahwa dalam jihad difa’i atau jihad defensif izin dari pemimpin bukan menjadi syarat syah tidaknya jihad. la merujuk apa yang dilakukan oleh Abu Basyir, seorang sahabat Nabi yang melakukan jihad sendirian, tanpa perintah dari Nabi Muhammad, yang saat itu sedang mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Kafir di Mekkah.

Rancangan proyek rahasia mulai disusun oleh Hanbali pada akhir 1999. Operasi ini diberi nama operasi Al’lmmatul’Kuffaar operasi penumpasan para pemimpin kafir. Sebenarnya operasi ini adalah pelaksaan terhadap doktrin irhabiyah atau terorisme dari paham Salafy Jihadi. Tujuan dari operasi ini adalah aksi balas dendam atas kematian umat Islam di Maluku dan belakangan di Poso. Sasarannya adalah para pendeta dan orang-orang Kristen yang dianggap terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan di sana. Operasi ini disusun setelah Hanbali dan kawan-kawan mendengar rumor yang beredar bahwa ada rencana jahat dari orang-orang Nasrani untuk memindahkan konflik agama ke luar Maluku. Awalnya rumor itu beredar pada April 1999 di daerah Solo dan Boyolali yang memang menjadi basis kelompok JI.Rumor itu berasal dari selebaran gelap yang menyebutkan, adanya rencana jahat para tokoh Kristen di Solo dan sekitarnya, untuk meledakkan kota Solo menjadi ‘Ambon Kedua. Selebaran itu menyebutkan bahwa rancangan jahat itu dibicarakan dalam sebuah rapat tertutup di SMKK (Sekolah Menengah Kejuruan Kristen) Simo Boyolali pada 39 Maret 1999. Rapat itu juga membahas bahwa umat Kristen harus selalu waspada dengan banyaknya pondok-pondok pesantren yang anti Kristen. Disebut juga bahwa di daerah Simo ada satu pesantren yang berbahaya karena mengajarkan para santrinya untuk menghancurkan orang-orang nasrani. Dalam rapat itu juga disebut bahwa mereka telah melakukan pelatihan militer untuk persiapan “Ambon Kedua”.

Awalnya informasi selebaran ini tak terlalu dipercaya, namun beberapa hari kemudian makin banyak orang yang percaya setelah terjadi insiden di Pesantren Darus Syahadah, Simo, Boyolali yang juga merupakan pesantren JI. Kejadiannya pada 8 April 1999 menjelang tengah malam. Pesantren itu didatangi masa yang tak dikenal yang diangkut oleh tiga truk. Masa tak dikenal itu sempat memutuskan kabel listrik pesantren. Beberapa orang dari mereka berusaha masuk ke dalam pesantren. Namun mereka kepergok para santri. Sempat terjadi kejar-kejaran namun massa tak dikenal itu berhasil kabur dengan truk. Beberapa jam kemudian sejumlah orang tak dikenal kembali mendatangi pesantren ini. Namun lagi-lagi mereka kepergok para santri yang sudah siaga. Seperti sebelumnya, mereka berhasil kabur. Kejadian di pesantren JI ini kemudian dikaitkan dengan informasi selebaran yang beredar sebelumnya.

Setelah insiden itu, isu Solo bakal dijadikan “Ambon Kedua” makin dipercaya. Berbagai ormas Islam segera bersiaga. Berbagai ormas Islam kemudian membentuk Front Pemuda Islam Surakarta. Belakangan isu ini semakin berhembus kencang setelah ada investigasi dari salahsatu ormas Islam yang menyampaikan informasi bahwa pelatihan militer Laskar Kristus benar-benar ada. Pelatihan rahasia itu berlangsung di Bukit Hormon, Kecamatan Karang Pandan, Kabupaten Karanganyar.

Pada 16 April 1999 ribuan massa ormas Islam Solo mengadakan aksi Apel Siaga di Stadion Manahan Solo. Apel Siaga ini sebagai aksi unjuk kekuatan massa ormas Islam yang menyatakan siap berjihad dan mereka juga menuntut aparat untuk mengusut rencana jahat orang-orang Kristen. Sementara itu, orang-orang JI di Solo dan Jawa Tengah juga sudah bersiap. Senjata-senjata sudah mereka keluarkan. Namun aksi mereka ini diredam oleh Achmad Roihan alias Saad yang meminta massa JI bersabar karena ia melihat bahwa isu ini sarat muatan politik. Tak jelas apa yang dimaksud pernyataan itu, tapi yang pasti hlmbauan Achmad Roihan ini diikuti oleh para anggota JI walaupun dengan hati yang mangkel,

Isu serupa juga diterima orang-orang JI pada akhir tahun 1999. Tapi berbeda dengan isu pertama yang beredar luas di masyarakat. Informasi kali ini diterima oleh tim Amniah wal Istikhbarot atau tim intelegen Mantiqi I. Kali ini bukan Solo yang akan di-Ambon-kan tapi Medan. Disebutkan bahwa gereja-gereja di Medan telah dijadikan tempat pelatihan Laskar Kristus, dan juga tempat menumpuk senjata. Menyikapi informasi itu, Hambali menyiapkan sebuah operasi rahasia untuk menyerang gereja-gereja dan para pendeta, sekaligus sebagai aksi balas dendam terhadap pembunuhan orang-orang Islam di Maluku. Operasi rahasia ini diberi nama operasi penyerangan Ai Immatul Kuffar (para pemimpin Kafir). Hambali menugaskan Abdul Aziz alias Imam Samudera sebagai kordinator operasi rahasia. Sementara itu Enjang Nurjaman alias Jabir diangkat sebagai komandan lapangan. Belakangan keduanya juga dibantu oleh Akim Akimudin, anggota JI dari Tasikmalaya yang juga teman dekat Jabir. Untuk melaksanakan proyek ini, Imam Samudera kemudian membentuk tim kecil—walaupun namanya batalion —yang disebut Tentara Islam Batalion Badar (TIBB), yang bertugas melaksanakan operasi. Mereka merencanakan operasi penyerangan pertama di Medan. Di Medan beberapa orang JI Medan diajak bergabung dengan TIBB. Para anggota TIBB kemudian mengadakan survei ke seluruh gereja di Medan serta nama-nama pendetanya.

Pada April 2000, TIBB menetapkan bahwa operasi penyerangan gereja akan dimulai pada Mei 2000. Penetapan waktu tersebut dilakukan karena mereka mendengar informasi lebih rinci soal rencana jahat orang-orang Kristen untuk menyulut konflik di Medan. Informasi yang mereka terima, operasi untuk menyulut konflik di Medan itu disebut operasi Richard 1 yang merupakan kelanjutan dari operasi Santa Millineum di Maluku. Disebutkan juga rencana jahat ini akan dimulai pada hari Minggu pada minggu ketiga bulan Juni 2000.

Minggu 28 Mei 2000, satu bom meledak di gereja GKPI Jalan Jamir Ginting, Padang Bulan, Medan. Bom ini melukai lebih dari 20 jama’ah yang sedang kebaktian. Beberapa jam kemudian aparat keamanan berhasil menjinakan dua bom lainnya di gereja HKBP Jalan Imam Bonjol dan Kristus Raja Jalan MT Haryono, Medan. Inilah aksi pertama TIBB. Beberapa hari kemudian TIBB mengeluarkan beberapa pernyataan di internet yang menyatakan pertanggungjawaban mereka atas aksi pemboman. Dalam dokumen itu dinyatakan,

“Pemboman yang kami lakukan juga sebagai peringatan awal kepada anda, bahwa Umat Islam kali ini lebih waspada dan bersiap sedia dibandingkan dengan kejahatan licik yang anda lakukan terhadap saudara-saudara kami di Ambon”.

“Kami juga tidak mungkin melepaskan pengintaian kami terhadap anda dan pendeta-pendeta anda yang jelas-jelas menggunakan gereja sebagai Indoktrinasi perang. Kami tahu 100% bahwa di balik kata ‘kasih’ dan ‘ibadah’ Anda telah menyiapkan ribuan parang, peluru dan bahkan bom ! Anda lakukan semua itu di gereja. Menjadi serangan kami terhadap gereja-gereja anda adalah serangan kami terhadap Kubu pertahanan anda! Bukan semata-mata sebagai gereja. Dan kami tahu benar bahwa pendeta-pendeta dan pastor-pastor anda telah disumpah oleh Vatican dan Paus Paulus II untuk menyalakan dan meneruskan operasi perang Salib dengan nama Operasi Richard I.

Konflik agama yang dicurigai oleh Imam Samudera dan kawan-kawan akan meledak di Medan tak pernah terjadi. Tanpa diduga pada hari yang sama, 28 Mei 2000 konflik agama justru meledak di Poso, Sulawesi Tengah. Ketika TIBB meledakkan bom di Medan, kerusuhan antar penganut agama sedang memuncak di Poso. Dalam kerusuhan itu puluhan umat Islam tewas dan ribuan orang terusir dari kampung halamannya. Kejadian Poso ini makin menguatkan prasangka orang-orang Mantiqi I bahwa orang-orang Kristen benar-benar berniat jahat.

Karenanya, Batalyon Badar terus melakukan berbagai aksi penyerangan terhadap orang-orang Kristen. Pada Agustus 2000, Batalyon Badar menyerang gereja GKII di Jalan Bunga Kenanga, Padang Bulan, Medan. Aksi penyerangan para pendeta juga mulai dilakukan, mereka menembak pendeta J. Surbakti. Mereka juga berusaha membunuh pendeta MJ. Sitorus dengan meletakkan bom di depan rumahnya.

Sementara itu pada akhir 2000, Hanbali mendapat informasi bahwa gereja-gereja di Indonesia telah dijadikan tempat penimbunan senjata. Informasi ini ditindaklanjuti oleh Hambali dan kawan-kawan dengan merencanakan serangan bom di berbagai kota pada saat yang bersamaan. Pada 24 Desember 2000, Batalion Badar meledakkan 25 bom di delapan kota dalam waktu yang hampir bersamaan. Aksi ini menyebabkan 17 jiwa melayang dan sekitar 120 orang terluka. Sebenarnya apa yang terjadi tak sedramatis yang direncanakan. Untuk aksi malam natal itu, TIBB menyiapkan lebih dari 50 paket bom yang akan diledakkan di lebih dari 50 gereja dan dua rumah pendeta di 11 kota di Indonesia. Namun tak semua meledak. Hanya 25 bom yang meledak di delapan kota. Sementara itu, di Medan 11 paket bom yang diletakan di sembilan gereja dan dua rumah pendeta gagal meledak. Sementara di Bandung, bom meledak ketika sedang dirakit. Kecelakaan di Bandung ini menewaskan Jabir komandan lapangan TIBB dan Akim Akimudin, wakilnya Jabir. Sementara itu di Ciamis bom meledak ketika sedang dibawa oleh si pelaku menuju gereja yang akan dibom.

Aksi peledakan gereja-gereja di berbagai kota ini tak hanya ditujukan untuk membalas dendam atau meneror musuh, Hambali punya tujuan yang lebih luas yaitu membuka pintu jihad. Seorang pelaku pemboman mengatakan, “keterlibatan saya dengan beberapa aksi pengeboman adalah memiliki tujuan dan harapan tersendiri, yaitu mungkin dengan melakukan pengeboman terhadap pihak yang kami anggap sebagai musuh dan juga dalam rangka melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah, bisa menjadi penyebab Allah membuka medan perang antara kaum’ muslimin dengan orang-orang kafir.

Jelasnya dengan melakukan aksi-aksi pemboman di luar wilayah konflik seperti kasus Bom Natal, Hambali, Ali Imron dan kawan-kawan mengharapkan konflik bisa meluas di Indonesia. Diharapkan aksi pemboman gereja, akan melahirkan aksi balas dendam dari orang-orang Kristen, apalagi dalam keyakinan orang-orang JI, orang-orang Kristen sudah sangat siap untuk melakukan pembalasan terhadap orang Islam merujuk pada informasi bahwa kaum Nasrani telah menumpuk senjata di gereja-gereja dan siap menyerang orang Islam. Nah, seandainya di kota-kota yang gerejanya di bom, atau di tempat lain orang-orang Kristen balas menyerang orang-orang Islam, maka di tempat tersebut secara otomatis terbuka pintu jihad. DI tempat seperti itu JI mudah membangkitkan jihad umat Islam, seperti yang mereka lakukan di Maluku dan Poso. Wilayah-wilayah konflik ini juga menjadi tempat yang baik untuk melakukan perekrutan anggota dan bila memungkinkan JI bisa membangun qoidah aminah di sana. Bila semua ini berhasil dilakukan maka JI lebih mudah mengikrarkan jihad musholah (jihad perang) melawan pemerintah Indonesia.Inilah yang dimaksud oleh Hambali dalam obrolannya dengan para anggota JI di Malaysia, bahwa pemboman-pemboman seperti Bom Natal juga bermaksud memudahkan jalan untuk mendirikan Daulah Islamiyah.

Namun aksi Bom Natal ternyata tak menghasilkan dampak yang diharapkan. Malahan dampak yang muncul benar-benar di luar dugaan orang-orang JI. Bukannya orang-orang Kristen menjadi berseteru dengan orang-orang Islam, yang terjadi malah sebaliknya, baik orang Islam maupun orang Kristen menjadi bersatu mengecam serangan bom di berbagai kota. Sebagai reaksi atas pemboman tersebut, maka dibentuklah Forum Indonesia Damai (FID), di mana didalamnya berkumpul tokoh-tokoh Islam dari berbagai ormas dan’tokoh Katolik serta Protestan seperti seperti Nurcholis Madjid (tokoh Paramadina), Said Agil Siraij (tokoh NU), Hidayat Nur Wahid (Presiden Partai Keadilan Sejahtera), Mudji Sutrisno (tokoh Katolik), Frans Magnis Suseno (tokoh Katolik), SAE Nababan (tokoh Kristen Protestan). Para tokoh itu bekerja keras untuk mencegah terjadinya aksi balas dendam dari umat Nasrani. Alih-alih mendapat simpati malah menuai makian. Alih-alih dianggap sebagai mujahid para pelaku malah dituding sebagai teroris.

Melihat reaksi-reaksi yang jauh dari harapan, akhirnya TIBB pada sekitar awal Januari 2001 mengeluarkan bay an (penjelasan) yang panjang soal aksi Bom Natal.TIBB sadar bahwa aksi pemboman gereja dan upaya pembunuhan pendeta, serta timbulnya korban, seperti kaum wanita dan orang Islam, telah memicu kontroversi, soalnya dalam pemahaman jihad orang-orang Islam di Indonesia dalam berperang dilarang menyerang gereja, membunuh pendeta dan menyerang kaum sipil seperti wanita, apalagi orang Islam dijadikan sasaran.

Bayan itu menerangkan bahwa pendeta yang tak boleh dibunuh adalah pendeta yang mengasingkan diri dan mengabdikan diri dalam tempat peribadatannya.

“Adapun pendeta yang ikut serta bergaul dengan masyarakat bahkan menjadi provokator dan memimpin kegiatan-kegiatan yang ada unsur memerangi Islam dan kaum muslimin dan memurtadkan umat Islam, maka boleh dibunuh bahkan wajib dibunuh, karena ia termasuk immatul kufar (pemimpin-pemimpin orang kafir). Demikianlah menurut ahlul llm termasuk Imam Ahmad, Imam Asy-Syafii, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’I yang artinya “Bunuhlah pembesar orang-orang musrik’. Pendapat mereka ini didasarkan pada surat At-Taubah (9) ayat 14. Telah nyata bahwa para pendeta di Indonesia dan tempat-tempat yang lain pada hari ini, hampir kesemuanya adalah termasuk dalam golongan ke-2 seperti mana yang diterangkan di atas, baik langsung maupun tak langsung.

Lebih jauh, berkaitan dengan penyerangan tempat ibadah, bayan ini berpendapat bahwa penyerangan gereja di Indonesia dibenarkan, karena gereja-gereja digunakan sebagai tempat makar terhadap umat Islam, misalnya sebagai pusat kristenisasi dan pusat penyerangan terhadap umat Islam, seperti di Poso dan Maluku, bahkan termasuk di luar wilayah konflik.

“Lebih daripada itu lagi ada beberapa informasi yang diperoleh dari beberapa sumber yang dapat dipercayai bahwa terdapat beberapa gereja yang bukan di tempat konflik, artinya bukan di kepulauan Maluku dan Poso, yaitu di tempat-tempat yang sementara ini masih aman, ternyata dijadikan gudang untuk menyimpan senjata yang bisa mereka pergunakan bila dan kapan saja, yang mereka anggap waktunya tepat untuk membantai kaum muslimin, seperti yang mereka telah lakukan sebelumnya di kepulauan Maluku dan Poso. Maka gereja yang seperti ini boleh dihancurkan bahkan menjadi wajib hukumnya bagi kaum muslimin untuk menghancurkannya.

Sementara itu soal korban orang-orang sipil Tentara Islam Batalion Badar menjelaskan,

“Pada asalnya perempuan, anak-anak, orang tua, ahli ibadah yang berada di tempat-tempat peribadatan dan orang Islam hukumnya tidak boleh dibunuh, demikianlah menurut beberapa hadis dan pendapat ahlul ilmi, tetapi jika mereka berada di suatu tempat di mana tempat tersebut menjadi sarang musuh-musuh mujahidin, sehingga mujahidin menjadikannya sebagai target maka dalam hal ini boleh dilakukan dengan niat dan tujuan untuk membunuh musuh-musuh tersebut, bukan diniatkan untuk membunuh orang-orang yang dilarang untuk dibunuhnya seperti yang tersebut di atas, Rasulullah SAW melemparkan roket manjaniknya terhadap penduduk Thaif sedangkan didalamnya terdapat anak-anak,wanita dan orang tua.

Kontroversi soal aksi-aksi TIBB sebenarnya tak hanya menyulut kontroversi di kalangan umat Islam saja, bahkan di kalangan anggota JI sendiri. Menurut AH Imron, bahkan mayoritas alumni Afghanistan dan alumni Moro pun tak menyetujuinya.Salahsatunya karena aksi tersebut melakukan penyerangan terhadap tempat ibadah yang jelas dilarang oleh ajaran Islam.Apalagi klaim bahwa orang-orang Kristen menimbun senjata dan merencanakan aksi penyerangan terhadap umat Islam adalah klaim-klaim yang berdasarkan prasangka yang tak terbukti kebenarannya. Seperti yang diakui oleh Hasyim Abbas, pelaku Bom Natal di Batam yang sempat mensurvei gereja-gereja di sana selama beberapa hari, menyatakan tidak menemukan senjata-senjata yang ditumpuk di geteja, bahkan juga tidak ada kata-kata yang menunjukan permusuhan terhadap umat Islam. Namun meskipun informasi tersebut sudah disampaikan kepada Hambali, namun pimpinan Mantiqi 1 ini tetap ngotot meneruskan aksi pemboman.

Banyaknya kecaman baik dari umat Islam maupun internal JI, serta penangkapan beberapa pelakunya tak membuat mereka menghentikan aksi-aksi terornya. Pada Juli 2001 mereka meledakkan gereja di komplek Angkatan Darat dan Angkatan Laut di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka juga melanjutkan aksinya dengan membom gereja Bethel di Semarang. Tak berhenti di sana, pada September 2001 mereka merencanakan aksi peledakan di acara kebaktian di Atrium Senen, Jakarta Pusat, namun aksi ini gagal karena bom yang meledak sebelum waktunya. Seorang anggota TIBB yang bernama Taufik Abdul Halim alias Dani, anggota JI dari Malaysia ikut menjadi korban. Penangkapan terhadap Taufik juga berbuntut penangkapan terhadap Edy Setiono alias Usman, anggota laskar khos. Akibat penangkapan-penangkapan ini, para personil TIBB banyak yang melarikan diri.

 

JI dan Mujahidin KOMPAK

Leave a comment

Meledaknya konflik Ambon disambut para anggota JI dengan antusias. Antusias, karena mereka melihat akan ada banyak keuntungan bagi JI dengan adanya konflik agama. Seorang anggota JI mengungkapkan perasaannya:

“Sekalipun timbulnya konflik tersebut tidak ada campur tangan dari kelompok kami (Jama’ah Islamiyah), namun kejadian tersebut menjanjikan harapan baru buat kami. Yaitu memberi jalan buat kami untuk mendapatkan medan jihad dan menjadi pengobar semangat kami untuk berjihad yang selama ini kami tunggu-tunggu dan kami dambakan.

Kejadian ini juga memberi harapan buat saya untuk mengirimkan kawan kawan guna melakukan i’dad (latihan dan persiapan perang), sekaligus kesempatan untuk bisa terjun ke medan perang secara langsung. Dan kejadian ini pula yang bisa saya jadikan sebagai media dakwah untuk memahamkan jihad fisabilillah kepada masarakat, dan juga bisa saya jadikan sebagai alat untuk mengobarkan semangat jihad kepada kaum muslimin.

Persiapan jihad Ambon ini dibahas JI dalam rapat di Solo pada Juni 1999. Pertemuan ini dihadiri Abu Fatih, ketua Mantiqi II, Zulkarnaen, serta para anggota laskar khos seperti Zuhroni, Asep Darwin, Abdul Ghoni alias Umaer, Sawad alias Sarjiyo, Ali Imron, Mubarok dan Iain-lain. Proyek jihad Ambon ini berada di bawah tanggung jawab Zulkarnaen selaku ketua askary JI. Setiap peserta rapat juga mendapat tugas untuk mempersiapkan program jihad ini. Ada yang ditugaskan untuk mencari senjata dan bahan peledak, merekrut orang hingga mempersiapkan tadrib (pelatihan milker) di Maluku. Selain itu juga disepakati bahwa JI juga akan melaksanakan pembinaan teritorial di sana dengan tujuan membentuk wakalah-wakalah yang nantinya akan menjadi bagian dari Mantiqi Ukhro yang berpusat di Australia.

Namun persoalan dana membuat JI agak tersendat melaksanakan proyek jihad ini. Dana kas JI tentu saja jauh dari mencukupi untuk melaksanakan proyek ini. Sementara itu upaya buat menggalang dana dari masyarakat juga bukan hal mudah diperlukan lembaga yang kredibel dan bisa dipercaya. Persoalannya JI sendiri belum punya lembaga seperti itu. Untuk memecahkan persoalan dana ini, Abdullah Anshori alias Abu Fatih, ketua Mantiqi II, memutuskan bekerjasama dengan KOMPAK (Komite Penanggulana Krisisi), organisasi sosial yang berada dibawah DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). la pun lantas menghubungi DDII. la meminta organisasi yang didirikan oleh M. Natsir ini membentuk cabang KOMPAK di berbagai kota. Tujuannya untuk menampung dana masyarakat yang akan dialokasikan untuk kegiatan jihad. DDII tak keberatan asal kegiatan ini tak saling merugikan.

Tak lama kemudian dibentuklah KOMPAK Semarang, KOMPAK Surabaya dan KOMPAK Solo. Hampir semua pengurusnya dipegang oleh orang-orang JI. Namun KOMPAK Semarang dan Surabaya ternyata mandul, tak bisa bekerja. Sementara KOMPAK Solo yang dipimpin Aris Munandar, alumni Afghanistan angkatan 9/1991, aktif sekali menggalang dana. Lelaki lulusan Ngruki ini juga punya kakak kandung yang aktif di biro hubungan luar negeri DDII, yaitu Ustadz Muzayin Abdul Wahhab. Nampaknya melalui bantuan kakaknya inilah, KOMPAK Solo mampu meraup dana bantuan, tak hanya dari masyarakat Indonesia, tapi juga dari lembaga-lembaga dana dari Timur Tengah. “Bahkan penggalangan dana KOMPAK pusat konon dibawah Solo.”99 Muncul kesepakatan antara KOMPAK Solo dengan JI bahwa untuk urusan umum, seperti bantuan kemanusiaan urusannya akan ditangani oleh KOMPAK. Sementara untuk urusan khusus, seperti dana jihad akan dikelola oleh JI. Juga disepakati soal kemungkinan dana kemanusiaan dialihkan menjadi dana jihad.

Dana KOMPAK ini salahsatunya dibelikan untuk membeli senjata dan bahan peledak. Beberapa anggota JI seperti Mubarok, Usaid alias Zainal dan Sarjio, bolak balik ke Mindanao. Di sana mereka dibantu oleh Faturrohman Al Ghozi mencari senjata dan bahan peledak. Mubarok dan kawan-kawan berhasil mendapatkan puluhan senjata jenis M16, pistol FN 45 dan Bareta, juga bahan peledak seperti Detonating Cord, TNT dan RDX. Senjata-senjata itu langsung didistribusikan ke Maluku.

Selain itu proyek jihad JI yang didanai KOMPAK adalah tadrib askary di desa Waimorat, Kecamatan Batuboal, Kabupaten Namlea. Diklat militer yang dimulai bulan Oktober 1999 ini diikuti oleh 12 peserta. Di antaranya adalah Asep Jaja dan Abdullah Sonata, keduanya adalah murid Ustadz Muzayin Abdul Wahhab, kakak kandung Aris Munandar yang menjadi ketua KOMPAK Solo. Pelatihan yang berlangsung tiga bulan ini dibimbing oleh seorang instruktur bernama Pak De alias Ilyas alias Muchtar, alumni Afghanistan angkatan 8/1990. Ilyas memang dikenal seorang instruktur handal yang menguasai ilmu agama sekaligus ilmu kemiliteran yang lengkap. Semua materi diklat militer mulai dari weapon training, tactic, map reading, hingga field enginering lengkap diajarkan oleh lelaki asal Kudus, yang juga pernah menjadi instruktur di kamp Hudaibiyah, Mindanao selama dua tahun (1995-1997). Selain ilmu militer, dalam pelatihan ini juga diajarkan berbagai doktrin jihad versi Salafy Jihadi. Tak heran pelatihan ini, berhasil mencetak alumni yang punya ideologi jihad, dengan kemampuan militer yang mumpuni.

Sebagian alumni pelatihan Waimorat ini menjadi tokoh penting dalam jihad di Ambon. Salahsatunya adalah Abdullah Sonata. Lelaki asal Jakarta ini juga ditunjuk sebagai Ketua KOMPAK Maluku yang mengurusi berbagai bantuan kemanusiaan. Selain itu kemampuan ilmu agama yang berpadu dengan ilmu askary, membuat dirinya menjadi pemimpin informal di kalangan sukarelawan jihad yang datang dari luar Maluku. Apalagi posisinya sebagai Ketua KOMPAK membuat ia menjadi lebih lagi dihormati, karena punya akses yang luas terhadap dana. Tak heran sebagian orang menobatkan dirinya sebagai pimpinan Laskar Mujahidin yang belakangan dikenal dengan sebutan Mujahidin KOMPAK. Salahsatu operasi laskar mujahidin yang dipimpin oleh Abdullah Sonata adalah penyerangan Markas Brimob di daerah Tantui pada pertengahan 2000. Aksi Sonata dan kawan-kawan yang juga dibantu oleh pasukan siluman—pasukan TNI dan Polisi Muslim yang melepaskan baju seragamnya dan ikut berperang di pihak umat Islam—berhasil menjebol gudang senjata Brimob, dan berhasil merampas lebih dari 800 senjata.

Situasi ini tak terlalu menggembirakan JI, gara-garanya KOMPAK yang awalnya hanya mengurusi bantuan kemanusiaan, kini menjadi ikut-ikutan mengurusi proyek jihad yang sebenarnya sudah disepakati akan diurus oleh JI. Situasi ini makin buruk karena Aris Munandar, sebagai ketua KOMPAK Solo, mendukung proses militerisasi di tubuh KOMPAK Maluku. Di antaranya KOMPAK Maluku seolah membikin pasukan sendiri, dan juga belakangan membikin tadrib askary sendiri. Tindakan Sunata dan Aris Munandar ini dianggap orang-orang JI sebagai, “Melenceng dari khitoh KOMPAK karena secara vulgar membawa KOMPAK ke arah asykary. Situasi makin diperparah lagi setelah muncul ketersinggungan dari Zulkarnaen terhadap Arismunandar. Penyebabnya Zulkarnain sering tersinggung kalau diminta pertanggungjawaban dana jihad. “Pak Aris sebagai ketua lembaga resmi saya lihat cukup longgar dalam mengucurkan dana untuk jihad, tapi disaat seperti Pak Zul diminta membikin laporan (formalitas), merasa tersinggung.  Situasi ini membuat kelompok yang punya moto, “Berjihadlah dengan harta dan jiwa dalam memerangi orang-orang kafir (Kristen), yang memerangi umat Islamini memutuskan beroperasi sendiri terpisah dari JI.

Perpecahan ini terlihat ketika keduanya terlibat jihad di Poso. Baik KOMPAK maupun JI punya program yang serupa bahkan terkesan berkompetisi. JI mengadakan tadrib askary, KOMPAK pun mengadakan diklat militer serupa. KOMPAK membina orang-orang lokal di daerah Kayamanya, JI juga menggarap warga Tanah Runtuh dan Gebangrejo. KOMPAK membentuk milisi Mujahidin Kayamanya yang kebanyakan anggotanya para mantan preman. Tak mau kalah, JI juga mengumpulkan mantan preman dalam organisasi Mujahidin Tanah Runtuh.Apa yang dilakukan oleh KOMPAK makin membikin marah orang-orang JI. Mereka sempat mengeluarkan larangan bagi Abdullah Sonata dan kawan-kawan memasuki wilayah-wilayah yang dikuasai oleh orang-orang JI.

Lepas dari perselisihan antara KOMPAK dengan JI. Proyek Jihad JI sebenarnya relatif cukup berhasil. Di kedua tempat ini, JI berhasil mencetak para mujahidin baru yang berpaham Salafy jihad. Contohnya di Maluku, mereka melahirkan Mujahidin KOMPAK. Di Poso mereka juga berhasil membentuk mujahidin Tanah Runtuh yang kebanyakan anggotanya para mantan Preman di Poso. Bahkan untuk Poso, program pembinaan teritorial JI sangat berhasil. Sebelum konflik Poso, anggota JI di Palu, Sulawesi Tengah hanya ada tiga orang. Namun setelah konflik berlangsung, Anggota JI jumlahnya membengkak hingga ratusanorang. Selain berhasil membentuk wakalah Palu, JI juga mampu membentuk dua wakalah baru di Poso, yaitu wakalah Haibar yang meliputi Poso dan sekitarnya, serta wakalah Tabuk yang meliputi wilayah Pendolo. Bahkan Haji Adnan Arsal, salah seorang tokoh Islam tradisionalis paling berpengaruh pun bisa direkrut menjadi anggota JI.

Proyek jihad JI di Poso dan Ambon menunjukan betapa efektifnya ajaran Salafy Jihadi tumbuh di wilayah konflik. Ajaran ini seperti menemukan kembali habitat utamanya. Jihad yang berarti qital fisabilillah, hukum jihad yang fardlu ‘ain menjadi ajaran-ajaran baru yang segera dipercaya kebenarannya oleh kaum muslimin dari berbagai latarbelakang sosial. Seperti yang terjadi pada kasus Mujahidin Kayamanya dan Mujahidin Tanah Runtuh. Mayoritas anggotanya para preman yang dikenal sebagai para pendosa. Latarbelakang keagamaan pun menjadi tidak penting. Haji Adnan Arsyal seorang tokoh Islam tradisionalis yang fanatik meninggalkan mazhab Syafii, dan memutuskan menjadi penganut ajaran Salafy Jihadi.

 

 

Antara Far Enemy dengan Near Enemy

Leave a comment

Tak hanya orang DI yang menolak, di kalangan internal JI pun timbul prokontra. Sebagian besar petinggi JI di Mantiqi I seperti Hanbali, Ali Ghufron mendukung fatwa ini. Sebaliknya para pejabat Mantiqi II seperti Ibnu Thoyib, Achmad Roihan dan Thoriqun menolak. Muncul perdebatan diantara kedua kubu.

Hanbali dan kawan-kawan berpendapat bahwa jihad melawan Amerika untuk membebaskan Jazirah Arab sekarang, menjadi prioritas utama. Mereka berdalih bahwa Amerika bukan sekadar menguasai tanah kaum Muslimin, tapi menduduki Al Haramain, atau tanah suci kaum Muslimin. Mengusir orang-orang kafir di Jazirah Arab harus disegerakan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah, yang saat menjelang wafat dan dalam keadaan sakit keras masih memerintahkan agar umat Islam mengeluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Karenanya jihad melawan Amerika tak bisa ditunda dengan alasan apapun.

Selain terpengaruh oleh fatwa Bin Laden, orang-orang di Mantiqi II ini juga terpengaruh oleh pemikiran Abu Qotadah Al Falisthini soal thoifah mansyuroh. Dalam bukunya Ma’alim Ath Thoifah Al Mansyurah (Jalan Thoifah Mansyurah)mantan murid Nasruddin Al-Albani, tokoh Salafy abad 20, ini menyebut bahwa thoifah mansyurah adalah thoifatul haq wal jihad atau sekelompok umat Islam pemegang kebenaran yang menurut hadis Nabiakan selalu ada, hingga akhir zaman yang salahsatu ciri utamanya, adalah tetap melaksanakan jihad, walaupun umat Islam lainnya sudah enggan berjihad. Singkatnya kelompok ini adalah kelompok yang berperang yang tidak menunda-nunda jihad. Akibat terpengaruh buku ini, orang-orang di Mantiqi 1 menjadi terobsesi masuk golongan thoifah mansyurah. Apalagi menurut buku ini, menjadi bagian dari kelompok ini syaratnya gampang, yaitu menyegerakan jihad.

Argumen ini dibantah oleh Achmad Roihan dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa prioritas jihad JI adalah melawan pemerintah Indonesia yang dihakimi murtad. Alasannya penguasa murtad ini adalah musuh yang dituduh sebagai pihak pertama yang menumpahkan darah di hari suci itu. Selain itu banyak sekali umat Islam yang menjadi korban. Puluhan orang tewas dan luka, ribuan orang Islam terusir dari desanya dan sekitar 20 masjid dibakar.

Sementara itu di kota kecil Poso, Sulawesi Selatan terjadi konflik serupa. Sejak akhir 1998, di Poso sudah terjadi beberapa kali konflik komunal antara muslim melawan Kristen. Namun puncaknya pada 28 Mei 2000. Hari itu milisi Kristen menyerang kampung-kampung muslim di seluruh wilayah Poso. Dengan beringas mereka mengusir, melukai dan membunuh warga muslim. Namun, kekejaman paling buruk terjadi di Pesantren Walisongo yang terletak di selatan Kota Poso. Milisi Kristen membunuh sekitar 80 orang-orang tak bersenjata yang tengah berlindung di halaman masjid. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Pembantaian Walisongo.

Baik kasus “Tragedi Idul Fitri Berdarah” maupun “Pembantaian Walisongo” ini menjadi momen mobilisasi besar bagi pihak muslim. Pers memainkan peran yang sangat menentukan pada titik ini. Kemarahan pers di seantero negeri, khususnya dalam majalah-majalah keagamaan seperti Sabili yang luas dibaca dan selalu berkobar-kobar, telah menempatkan Ambon dan Poso menjadikan tempat orang-orang Muslim menjadi korban serangan oleh orang-orang Kristen fanatik.

Konflik antara komunitas muslim dengan komunitas Kristen ini telah membawa wacana baru di kalangan JI dan membuat perdebatan-perdebatan sebelumnya berhenti untuk sementara. Perdebatan ihwal siapa yang lebih utama diperangi apakah musuh yang jauh, seperti kafir harby atau musuh yang dekat seperti pemerintah murtad menjadi tak relevan dalam konflik Ambon dan Poso. Di sana, pihak yang dianggap musuh jauh berubah menjadi musuh yang dekat. Sementara itu perdebatan soal apakah jihad harus dilakukan sekarang atau ditunda dulu menjadi tak beralasan. Dengan adanya konflik agama di pintu jihad telah terbuka. Alasan bahwa jihad bisa ditunda karena kekuatan JI masih lemah, menjadi tak relevan, pasalnya lawan yang dihadapi adalah orang-orang Kristen di Ambon dan Poso yang dipandang jauh lebih ringan kekuatannya ketimbang musuh utama JI, yaitu pemerintah Indonesia atau Amerika dan sekutunya. Selain itu di sana, musuh berada di depan mata yang siap setiap saat bisa menyerang orang-orang Islam di sana. Tak ada alasan untuk mengatakan jihad bisa ditunda dan hanya fokus pada i’dad saja, karena setiap saat musuh bisa menumpahkan darah kaum muslimin.

 

Qoidah Aminah dan Laskar Khos

Leave a comment

JI sendiri menyadari bahwa jihad musholah (jihad bersenjata) untuk merebut kekuasaan di Indonesia adalah program jangka panjang. Hingga 1999 mereka masih merasa banyak persyaratan jihad yang belum terpenuhi. Misalnya kondisi umat Islam di Indonesia yang masih dianggap lemah agamanya, pemahaman agama yang rusak, terutama mayoritas umat Islam masih percaya bahwa dien (agama) dan daulah (negara) itu terpisah, kuatnya pengaruh thariqot di kalangan masyarakat bawah dan Iain-lain. Selain itu internal JI sendiri masih punya masalah. Jumlah anggota di wilayah garap utama atau Mantiqi II masih sedikit. “Kondisi intern kita dengan multazimin lebih dari 2.000 orang (jika ditambah binaan lebih dari 5.000 orang) belum cukup memikul beban riil gerakan.” Selain itu, ada beberapa persoalan lain misalnya soal kemampuan askary para anggota JI belum merata, secara kualitas dan kuantitas anggota JI masih jauh di bawah musuh, minimnya dana dan fasilitas senjata.

Meskipun begitu JI sendiri sudah punya strategi untuk merebut kekuasaan. Namun mereka tak pernah berpikir mengambilalih kekuasaan lewat jalan kudeta militer. Alasannya, “masyarakatnya belum siap, sehingga kalau pun bisa, maka jangan-jangan pembawa kebenaran dapat dimusuhi masyarakat, atau syari’at Islam dipandang sebagai beban. Belum lagi kemampuan kita dalam persoalan teknis pembinaan umat. Strategi yang dipakai oleh JI sebagai langkah awal untuk merebut kekuasaan adalah membentuk qoidah aminah (basis yang aman dari kekuatan musuh).

Strategi ini berkaitan dengan jenis jihad yang akan mereka lakukan di Indonesia yaitu, jihad abnaul haraqah bukan jihad bangsa. Maksudnya jihad yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat yang telah sadar akan kewajiban menegakkan syari’at Islam. Sementara itu jihad bangsa, adalah jihad yang dilakukan sebuah bangsa di mana semua warga masyarakat terlibat dalam perang, seperti kasus Afghanistan, Chechnya dan Moro. Mereka belajar dari sejarah perjuangan Nabi, di mana jihad yang pertama kali dilakukan adalah jihad abnaul harahah yang dilancarkan dari qoidah aminah di Madinah. Seperti Perang Badar yang hanya diikuti oleh 300 orang saja. Sembari berjihad Nabi melakukan dakwah ke masyarakat Madinah, sehingga akhirnya jihad abnaul haraqah ini melibatkan seluruh masyarakat Madinah dan berubah menjadi jihad bangsa Madinah. Saat penaklukan kota Mekkah kekuatan pasukan sudah berlipat-lipat hingga sekitar 20 ribu orang.

JI sendiri sudah menetapkan kriteria sebuah wilayah layak dijadikan qoidah aminah atau tidak. Ada tiga kriteria. Pertama, geografi, letak wilayahnya sangat menguntungkan untuk pertahanan, tersedianya sumber logistik dan Iain-lain. Kedua, demografi, mayoritas penduduknya sudah menyambut seruan dakwah dan siap berkorban, pihak musuh tak mampu mengontrol masyarakat Islam secara penuh, sentral kepemimpinan ada di tangan abnaul haraqah (aktivis gerakan), para aktivis jihad sudah siap melakukan perlindungan. Terakhir, kepemimpinan masyarakat baik formal maupun informal sudah didominasi oleh abnaul haraqah, mampu menetralisir tekanan politik musuh dan Iain-lain.

Saat itu JI berpikir salahsatu wilayah yang cocok untuk dijadikan qoidah aminah adalah Jawa Barat, terutama dari Priangan Timur seperti Garut, Tasikmalaya, serta Ciamis yang memang sudah teruji pernah menjadi qoidah aminah bagi Darul Islam. Mereka mencoba melakukan tansikh baitul jama’ah (kerjasama dengan jama’ah lain) dengan Darul Islam yang punya basis yang kuat di Jawa Barat. Namun hal ini ditolak DI yang nampaknya masih punya dendam terhadap JI.Akhirnya JI memutuskan untuk membuat qoidah aminah melalui pengembangan sembilan wakalah yang dimiliki JI saat itu. Diharapkan antara tahun 2021 hingga 2025, JI sudah mempunyai daerah-daerah basis yang kuat di Indonesia. Saat itu “basis telah mantap untuk menjadi mahjar atau penyangga dakwah dan perjuangan.” Bila target itu bisa dipenuhi maka selepas 2025 JI sudah bisa melakukan jihad musholah di Indonesia.

Selain mempersiapkan qoidah aminah, JI juga mulai membentuk pasukan komando atau laskar khos (pasukan khusus), yang kelak akan ditugaskan untuk melindungi daerah basis yang aman. Selain itu kalau seandainya qoidah aminah sudah tegak, pasukan khos itu juga bertugas untuk untuk melakukan berbagai operasi militer di wilayah-wilayah musuh.

Laskar khos sendiri sudah dibentuk sejak awal 1998. Anggotanya direkrut dari para alumni Afghanistan yang dianggap punya kemampuan militer khusus, seperti ahli bom, ahli persenjataan, serta ahli perang gerilya dan Iain-lain.78 Belasan alumni Afghanistan bergabung dengan pasukan ini. Zuhroni diangkat sebagai penanggung jawab pasukan khusus dibantu oleh Asep Darwin sebagai kepala sekretariat. Mereka yang terpilih untuk bergabung dengan pasukan khusus ini antara lain Edi Setiono alias Usman, Farihin alias Ibnu, Suhail, Sarjiyo alias Sawad, Abdul Ghoni alias Umeir, Ali Imron dan Iqbal alias Muktib.

Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh para anggota laskar khos ini antara lain mengikuti kursus-kursus singkat untuk mengingat kembali ilmu-ilmu yang pernah dipelajari di akademi militer Afghanistan. Selain itu ada juga latihan survei pusat-pusat bisnis di ibukota. Mereka sendiri tak tahu apa tujuannya, mereka hanya melaksanakan perintah yang diberikan oleh Zulkarnain. Cukup banyak tempat yang disurvei, gedung Ratu Plaza di daerah Sudirman, Plaza Indonesia di daerah Tamrin, Hotel Marriot di daerah Kuningan, gedung WTC (World Trade Center) di Sudirman. Ada tiga hal yang mereka amati. Pertama, bentuk dan posisi bangunan. Misalnya, lokasi bangunan menghadap ke mana, apakah langsung menghadap ke jalan raya, atau menjorok ke dalam. Kemudian Abdullah Sungkar sebelum masuk DI. Upaya menyusup ke KISDI kian mudah karena salahseorang anggota laskar khos, yaitu Usman alias Abas, merupakan supir pribadi Ahmad Sumargono. Melalui Abas inilah, uang dari para pendukung Habibie mengalir ke tangan orang-orang JI. Beberapa orang JI, termasuk Abas, diminta mengumpulkan massa pendukung Habibie, untuk melakukan aksi pengusiran terhadap para mahasiswa yang masih menduduki gedung DPR/MPR (Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat).

Lengsernya Soeharto yang diiringi terbukanya keran kebebasan membuat para petinggi JI gamang. Seperti yang terlihat dalam kasusnya dengan Partai Bulan Bintang (PBB). Partai yang didirikan oleh para aktivis DDII ini sempat menawarkan kepada Abdullah Sungkar untuk menempatkan para kadernya menjadi pengurus partai. Namun Sungkar menolak tawaran ini. Alasannya perjuangan melalui jalur parlementer dianggap melanggar salahsatu prinsip perjuangan JI, yaitu iman-hijrah dan jihad. Para petinggi JI menganggap kalau mereka menerima tawaran tersebut berarti mereka menerima demokrasi, yang justru oleh mereka dianggap sebuah kemusyrikan. Namun sikap JI sendiri tampak bingung, satu sisi ia menolak bergabung dengan PBB, namun di sisi lain ia membiarkan para kadernya yang punya keinginan untuk aktif di partai tersebut. Misalnya, Muhammad Zainuri, anggota JI wakalah Jawa Timur yang juga ayah kandung Faturrahman Al Ghozi diijinkan untuk duduk menjadi caleg PBB di kabupaten Madiun. Belakangan lelaki yang pernah dipenjara karena dituding terlibat Komando Jihad ini berhasil menjadi anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Tingkat II di Madiun.

Kebimbangan JI juga terlihat ketika muncul gagasan untuk menjadikan JI sebagai organisasi formal. JI sempat gamang memutuskan apakah menerima ide ini atau menolaknya. Di satu sisi mereka melihat bahwa ide ini melanggar salahsatu manhaj perjuangan JI, yaitu tanzim siri (organisasi rahasia). Namun di sisi lain, JI melihat bahwa dalam alam penuh kebebasan, dakwah mereka akan lebih efektif bila dilakukan secara terbuka. Di dalam JI sendiri gagasan ini memicu kontroversi. Sebagian petinggi JI menyetujui rencana ini. Mereka yang setuju sempat mendiskusikan rencana deklarasi ormas Jama’ah Islamiyah di Stadion Utama Senayan yang akan dihadiri para kader JI dan para ulama dari Jama’ah Islamiyah Mesir. Namun rencana ini akhirnya gagal setelah muncul keberatan dari sebagian petinggi JI lainnya yang melihat bahwa rencana ini bisa membahayakan organisasi, dan melanggar salahsatu manhaj perjuangan jama’ah yang disebut di atas, yaitu tanzim siri.

Di saat JI di Indonesia sedang beradaptasi dengan perubahan situasi politik, diam-diam di wilayah Mantiqi I, yaitu Malaysia dan Singapura sedang terjadi perubahan orientasi perjuangan di kalangan aktivis JI di sana. Perang melawan kafir harby, yaitu Amerika dan sekutunya menjadi wacana baru di kalangan mereka. Gara-garanya fatwa Usamah bin Laden dan kawan-kawan yang dikeluarkan pada 23 Februari 1998. “Membunuh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya, baik sipil maupun militer, adalah kewajiban setiap muslim yang dapat dilakukan di negara mana pun bila memungkinkan. Fatwa ini dikeluarkan atas nama World dibawa oleh truk itu meledak di sana dan menewaskan lebih dari 200 orang dan ratusan lainnya terluka. Mayoritas yang terluka adalah warga sipil Kenya dan Tanzania. Amerika bertindak cepat, pada 17 Agustus 1998, mereka menyerang tempat-tempat yang diduga sebagai kamp-kamp militer Al Qaida yang berada di daerah Khowst, Afghanistan. Roket-roket Amerika menewaskan 34 orang pengikut Usamah. Namun serangan ini tak berhasil membunuh Bin Laden. Serangan balasan Amerika ini sangat mempengaruhi respon para tokoh DI terhadap ajakan Usamah. Serangan ini membikin keder para tokoh DI. Gaos Taufik sendiri berkomentar,

“Ayeuna mah ngan jelema gelo nu wani ngalawan Amerika. Ngalawan thogut di negeri sorangan wae can mampu, komo ngalawan Amerika. (Saat ini hanya orang gila yang mau melawan Amerika. Melawan thogut di negeri sendiri saja belum mampu, apalagi melawan Amerika) “89

 

 

Binper dan Diklat Milite JI

Leave a comment

Tujuan pembinaan personal adalah pembinaan anggota di bidang agama dan militer. Kegiatan utamanya ada dua, tarbiyah atau pembinaan agama dan tajnid atau pembinaan asykari. Setiap anggota harus mengikuti keduanya. Tarbiyah ini sama dengan pembinaan usroh atau pengajian-pengajian kecil berkala yang dibimbing seorang murobbi. Tujuannya membina para anggota JI agar punya pemahaman Salafy Jihadi yang mendalam.

Berbeda dengan tarbiyah, tajnid bertujuan mencetak para kader JI menjadi tentara. Sebagai jama’ah jihad, JI menuntut para anggotanya mempunyai kemampuan militer yang memadai. Kegiatan tajnid ini biasanya dikemas dalam berbagai aktivitas olahraga, seperti lari jauh, main bola, berenang, naik gunung dan Iain-lain. Selain itu ada acara mukhayyamah atau camping yang memadukan antara latihan fisik, pendalaman ilmu kemiliteran serta ilmu agama. Acara mukhawayah ini biasanya berlangsung selama dua atau tiga hari di alam bebas seperti gunung, pantai, tepi sungai atau perbukitan. Dalam acara ini, peserta diajarkan ilmu-ilmu kemiliteran seperti teknik survival, taktik perang, map reading, serta beladiri. Tak hanya itu, dalam kegiatan ini juga diisi pengajian-pengajian yang membahas materi i’dad dan jihad. Biasanya, instrukturnya para alumni Afghanistan.

Selain tajnid, JI juga punya program diklat militer. Bedanya, program ini tak bisa diikuti oleh semua anggota. Kader-kader terbaik JI diseleksi untuk ikut diklat militer di Mindanao, Filipina Selatan. Di sana JI memiliki muaskar tadrib (kamp latihan militer) sendiri yang disebut kamp Hudaibiyah. Kamp yang berdiri pada 1994 ini awalnya tempat pelatihan militer pasukan elite MILF (Moro Islamic Liberation Front). Namun sejak 1997, Hudaibiyah diserahkan pihak MILF kepada JI. Sejak itu JI mulai membuka semacam program takhasus atau pelatihan perang cepat yang hanya berlangsung beberapa minggu saja. Beberapa kader JI yang pertama kali ikut program ini antara lain Noordin M. Top, DR. Azahari Husein, serta Ali Fauzi, adik tiri Ali Ghufron alias Mukhlas. Sebagai Instrukturnya adalah Faturrahman Al Ghozi alias Saad, alumni Afghanistan angkatan 9/1990. Baru pada 1998, JI membuka program diklat militer, Kuliyah Harbiyah dan Daurah Asasiyah Askariyah. Program pertama adalah pendidikan akademi militer selama tiga semester atau 1,5 tahun. Sedangkan program kedua adalah pelatihan perang cepat selama enam bulan. Para instrukturnya diambil dari para alumni Afghanistan seperti Nasir Abas (Angkatan 5/1987), Imron Baihaqi alias Musthopa (Angkatan 2/1986), Thoriqudin alias Hamzah (Angkatan 2/1986), Muhaimin Yahya alias Ziad (Angkatan 2/1986) dan Iain-lain. Dalam waktu dua tahun (1998-2000) kedua diklat militer ini berhasil meluluskan 170-an kader JI dari Malaysia dan Indonesia.

Bila dibandingkan, ilmu askary alumni Mindanao masih kalah dari veteran Afghanistan. Penyebabnya, fasilitas pelatihan di kamp Hudaibiyah masih kurang memadai. Meskipun begitu, para alumni Moro punya keunggulan dari alumni Afghanistan yaitu: “memiliki pengalaman tempur karena mereka belajar dan berlatih, sambil terlibat langsung dalam perang kontak senjata.

“Pengerahan paling banyak penghuni kamp Hudaibiyah adalah ketika ikut terlibat dalam konsentrasi mempertahankan wilayah pejuang Bangsa Moro dari serangan ‘operasi all out war’ yang dilancarkan oleh tentara Filipina (AFP) pada sekitar Juli 2000. Pengalaman membela nasib Bangsa Moro bersama pejuang Bangsa Moro memberkan semangat juang yang baru bagi anggota Al Jama’ah Al Islamiyah beserta kelompok orang-orang Indonesia yang lain.

Selain ke Mindanao, sejak akhir 1990-an, JI juga mengirim para kadernya ke Afghanistan untuk ikut tadrib askary di Muaskar Al Faruq milik Al Qaida. Di sana mereka ikut berbagai kursus kemiliteran mulai dari daurah ta’sisiyyah atau kursus dasar kemiliteran hingga kursus Mudarribin atau kursus untuk mencetak kader-kader mudarrib (pelatih). Kursus yang terakhir tak bisa diikuti sembarang orang. Pesertanya harus memiliki kualifikasi khusus, di antaranya sudah lulus daurah ta’sisiyyah, dan beberapa diklat lainnya. Dari ratusan pelamar hanya dipilih 30 orang saja yang boleh ikut daurah ini. Setelah mengikuti pendidikan selama empat bulan, 10 lulusan terbaik akan dipilih menjadi mudarrib. Seorang anggota JI menceritakan pengalamannya ikut pelatihan ini,

“Saya pun mulai mengikuti latihan dalam kursus mudarribin. Latihan yang akan saya jalani adalah merupakan perkembangan dari daurah ta’sisiyah. Setiap tahapan akan diajarkan dengan lebih detail agar kami benar-benar menguasai materi. Kami juga diberi latihan tambahan seperti taktik perang kota dan sniper. Kami juga diberi fasilitas menembak dengan amunisi yang tidak terbatas. Kursus yang saya jalani ini mengambil waktu sekitar 4 bulan. Saya mulai merasakan manfaat dari kursus yang saya jalani tersebut. Saya mulai yakin dan percaya diri untuk bisa mengajar para peserta baru di daurah ta’sisiyyah. Ada beberapa orang tidak dapat melanjutkan kursus, karena cedera, ketika latihan Taktik Perang Kota.

“Dalam masa empat bulan saya menjalani empat tahapan pelajaran. Yang pertama adalah perkembangan tentang senjata-senjata ringan dan senjata-senjata anti pesawat seperti Grenov, Dashaka, Zukoyak dan Shalaka, yang diajar oleh Huzaifah (mudarrib asal Yaman). Tahapan kedua adalah perkembangan dari pelajaran tofografi yang diajar oleh Abu Faroj (mudarrib asal Libia). Tahapan ketiga, adalah perkembangan dari pelajaran mengenai bahan-bahan peledak, yang diajar oleh Abu Toha (mudarrib asal Al Jazair). Tahapan yang terakhir, adalah pelajaran tentang Sniper dan Taktik Perang Kota yang diajar oleh Sawad (mudarrib asal Yaman).

Selama dua tahun (1999-2001), sekitar 20-an orang JI pernah ikut pelatihan milker di Muaskar Al Faruq. Kebanyakan mereka adalah kader JI dari Malaysia seperti Wan Min Wan Mat serta Dr. Azahari Husein.

 

Pembinaan Teritorial JI

Leave a comment

Binter dan MTI (Materi Taklimat Islamiyah)

Sejak awal JI menyadari tak mungkin jihad untuk menegakkan syari’at Islam bisa dilaksanakan tanpa dukungan umat Islam. Masyarakat Islam di mata JI diibaratkan seperti sebuah lingkaran, di mana di dalamnya terdapat beberapa lagi lingkaran, mulai dari yang besar hingga terkecil. Di dalam lingkaran terkecil itulah anggota JI berada. Artinya, anggota JI hanya bagian kecil dari masyarakat Islam secara keseluruhan. Di lingkaran yang lebih besar terdapat umat pendukung. Mereka bukan anggota JI, tapi setuju dengan cita-cita JI menegakkan syari’at Islam, dan mereka bersedia membantu tenaga, maupun dana. DI luar ini terdapat lingkaran lain yang lebih besar yang di dalamnya diisi oleh umat simpatisan. Berbeda dengan umat pendukung, umat simpatisan ini setuju dengan gagasan  ke anggota JI. la dibantu beberapa alumni Ngruki, antara lain Ahmad Syaifullah, Bambang Sukirno dan Imtihan Syafii. Bersama Ustadz Ziad mereka berkeliling ke wakalah-wakalah untuk mensosialisasikan materi-materi pembinaan ini. Selain itu, JI juga mengadakan pelatihan khusus MTI. Setiap wakalah diwajibkan mengirimkan dua atau tiga mubalighnya untuk ikut training ini.

Binter: Dakwah dan Pesantren

Dakwah di masyarakat menjadi ujungtombak pembinaan tentorial. Untuk itu JI menyediakan tenaga-tenaga mubaligh untuk mengisi pengajian-pengajian di masyarakat. Seperti yang dilakukan Yayasan Ar Rosikhun, milik JI, di daerah Duren Sawit, Jakarta. Yayasan yang dipimpin Muhaimin Yahya ini menyediakan mubalig-mubalig yang siap dikirim untuk berdakwah ke berbagai masjid serta majelis taklim di Jakarta. Ada empat tahapan dakwah yang dilakukan JI, yaitu,

  • Tablig. Dakwah yang diberikan kepada masyarakat umum secara luas. Pesertanya tak dibatasi misalnya pengajian umum, khutbah Jum’at, khutbah Idul Fitri serta tablig akbar.
  • Taklim. Kegiatan dakwah dalam bentuk kursus-kursus agama yang jumlah pesertanya dibatasi. Misalnya kursus baca tulis Al Quran, kursus ibadah haji dan umroh, kursus bahasa Arab dan Iain-lain. Yang membedakan tahapan tabligh dengan taklim ini adalah materinya lebih spesifik dan pesertanya terbatas.
  • Tamrin. Dakwah dalam bentuk pengajian tertutup biasanya diikuti orang-orang yang sudah dikenal, dan pernah ikut tabligh dan taklim. Pesertanya dibatasi antara 5-10 orang. Pengajian ini diadakan rutin seminggu sekali dan dibimbing oleh seorang ustadz JI. Di tahapan ini materi-materi MTI diperdalam. Materi-materinya antara lain Al Islam, llmu, Iman dan Pembatal Keislaman, Ma’rifatullah (Mengenal Allah), Ma’rifatul Rasul (Mengenal Rasul), Ibadah dan Sirah (Sejarah Perjuangan Nabi).
  • Tamhish. Inilah tahapan lanjutan dari tahapan thamrin. Tamhish hanya diikuti oleh para peserta pengajian tahap sebelumnya. Kegiatan sama dengan tahapan thamrin, yaitu pengajian tertutup. Bedanya dalam materi yang diajarkan, materi-materi MTI seperti Hijrah, Jihad dan Jama’ah lmamah dan Ba’iah menjadi bahan pelajaran utama. Pada tahapan ini JI juga akan menugaskan ustadz pembimbing untuk meneliti latarbelakang peserta. Bila peserta dianggap memenuhi kriteria anggota, dan dia dianggap telah paham semua materi MTI, maka ia akan ditawarkan untuk iltizam atau bergabung dengan Jama’ah Islamiyah. Bila setuju, maka ia akan dibai’at masuk JI. Tahapan tamrin dan tamhish ini biasanya ditempuh selama satu hingga satu setengah tahun.

Selain melalui jalur dakwah, program binter dilaksanakan melalui jalur pendidikan, yaitu pesantren-pesantren. Hingga tahun 2000, JI memiliki lebih dari 15 pesantren. Di antaranya Pesantren Al Mu’min, Ngruki, pesantren Lukmanul Hakiem, Johor, Pesantren Al Mutaqien, Jepara, Pesantren Darusyahadah, Boyolali dan Iain-lain. Di pesantren-pesantren inilah, JI dengan leluasa mengajarkan berbagai doktrin-doktrin Salafy Jihadi. Proses pendidikan yang panjang mulai dari 3-12 tahun-tergantung masa pendidikan yang diikuti santri-sangat menguntungkan bagi JI, karena punya waktu yang cukup untuk menanamkan doktrin-doktrinnya kepada para santri.

Kondisi itu juga didukung oleh lingkungan pesantren yang sengaja dijadikan semacam Hukumah hlamiyah Mushoghiroh (Miniatur Pemerintahan Islam). Di lingkungan pesantren, santri dikondisikan seperti hidup di negara Islam. Semua perintah agama sebisa mungkin dilaksanakan, semua larangan agama sebisa mungkin ditinggalkan. Termasuk menjadikan lembaga pendidikan ini bebas dari maksiat, serta bebas dari segala fawahisy [hal-hal yang bisa menimbulkan kemaksiatan] seperti televisi, media massa, musik dan nyanyian. Selain itu ada sanksi hukum atas segala perbuatan maksiat. Selain itu, sanksi hukum juga diberikan kepada para santri yang tidak melaksanakan perintah agama, walaupun hukumnya dianggap sunnah, seperti tidak melaksanakan shalat jama’ah. Kondisi lingkungan seperti ini sangat mendukung proses doktrinisasi ajaran JI kepada para santri. Seorang alumni Pesantren Ngruki menceritakan,

“Dari lingkungan ponpes (pondok pesantren) inilah saya mulai melatih diri untuk mencintai Allah SWT, Rasul-Nya SAW dan Islam di atas segala-galanya, dari ponpes inilah rasa fanatik saya terhadap golongan seperti Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya menjadi luntur dan hilang-alhamdulillah-dan beralih menjadi fanatik terhadap Islam. Dalam ponpes ini juga saya memantapkan lagi apa yang selalu dipesankan oleh ayah saya bahwa hidup ini adalah akidah dan jihad (perjuangan), sebagaimana kata mutiara Ibnu Syauqi ra yang arti bebasnya sebagai berikut, “teguhlah kalian dalam hidup ini untuk mempertahankan pandanganmu sebagai seorang mujahid, sesungguhnya hidup ini adalah akidah dan jihad.

Namun mesti dicatat tak semua santri bakal direkrut menjadi anggota JI. Hanya siswa berprestasi, serta puya latar belakang keluarga yang tidak membahayakan jama’ah-misalkan, bukan datang dari keluarga polisi atau TNI—yang akan direkrut. Sementara itu, para santri yang tak bergabung JI, diharapkan bisa menjadi umat pendukung. Biasanya proses seleksi akan dilakukan pada saat siswa menempuh pendidikan setingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Siswa-siswa yang dianggap berpotensi akan diajak ikut pengajian khusus yang dipimpin oleh seorang ustadz. Materi pengajiannya berasal dari buku MTI (Materi Tahlimat hlamiyah). Setelah seluruh materi selesai dikaji, diadakan acara daurah atau kursus agama untuk mengulang kembali materi-materi MTI. Acaranya berlangsung selama 10 hari dan biasanya diselenggakan pada 10 hari terakhir bulan puasa. Daurah ini menjadi rangkaian terakhir kegiatan pembinaan calon anggota. Seorang alumni Ngruki mengatakan,

“Saya menjadi anggota organisasi Al Jama’ah Al Islamiyah sejak tahun 1994, di mana awal mulanya pada saat itu saya masih duduk di kelas 6 Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo, pada saat itu saya bersama dengan teman-teman yang lain mengikuti kajian MTI (Manhaj Taklimat Islamiyah) Organisasi Jama’ah Islamiyah yang dibawakan oleh Ustad Abdul Rohlm, Ustad Joko, Ustad Mukhlis selama lebih kurang 10 hari, setelah MTI itu berakhir saya dan temen-teman ditawari oleh Ustadz Joko untuk dibai’at sebagai anggota jama’ah Islamiyah, dan atas tawaran tersebut saya menyatakan bersedia masuk dalam Al Jama’ah al Islamiyah, untuk mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh dalam pelajaran MTI tersebut (Dalam MTI diajarkan jihad dan jama’ah). Atas jawaban saya tersebut, selanjutnya oleh ustadz Joko diatur waktunya untuk dilakukan pembai’atan, dan kemudian bai’at sebagai anggota Jama’ah Islamiyah tersebut dilakukan di rumah ustad Abdul Rohlm, dan sejak saat itu saya resmi menjadi anggota Organisasi Al Jama’ah Al Islamiyah.

Perekrutan di pesantren-pesantren ini berhasil. Seorang ustadz JI mengatakan, “Supplier terbesar anggota JI adalah pesantren-pesantren JI.

 

Organisasi Militer JI dan Persiapan Jihad

Leave a comment

Abdullah Sungkar dan kawan-kawan membuat struktur organisasi. Struktur organisasinya beberapa kali direvisi dan berhasil disempurnakan pada 1995. Pada waktu yang sama JI juga menyelesaikan PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Jama’ah Islamiyah) semacam konstitusi JI. Menurut PUPJI, pimpinan tertinggi JI disebut Amir Jama’ah, yang saat itu dijabat oleh Abdullah Sungkar. la dibantu oleh Majelis Qiyadah Markaziah (Majelis Pimpinan Pusat), Majelis Syuro, Majelis Fatwa, serta Majelis Hisbah (Majelis Penegakan Disiplin Anggota). Di bawah Markaziah terdapat pengurus wilayah yang disebut Majelis Qiyadah Pembentukan struktur organisasi JI yang mirip kesatuan tempur ini memang didesain untuk menghadapi jihad musholah atau perang di Indonesia. Ketika jihad musholah telah dideklarasikan maka JI menjadi organisasi milker.Di mata orang-orang JI, Indonesia memang negeri yang harus diperangi karena dianggap sebagai darul riddah [negeri murtad]. Maksudnya, negeri yang dulunya negeri Islam, namun statusnya berubah menjadi negeri murtad karena Indonesia diperintah oleh penguasa murtad. Penguasanya walaupun mengaku beragama Islam dihukum murtad, karena mereka berhukum dengan al qawaaniin wad’iyah [syari’at buatan manusia].

Pengkafiran terhadap pemerintah Soeharto saat itu merujuk kepada fatwa Ibn Taymiyyah yang mengkaflrkan penguasa Tartar yang mengaku Islam tapi tidak menerapkan syari’at Islam. Di mata Abdullah Sungkar dan kawan-kawan kekafiran rezim Soeharto jauh lebih buruk dari penguasa Mongol yang dihukumi kafir oleh Ibn Taymiyyah. Penguasa Mongol hanya menerapkan hukum llyasik (hukum bangsa Tartar warisan Jengis Khan) di kalangan mereka saja, dan tidak melarang pelaksanaan syari’at Islam di kalangan kaum Muslimin. Sementara rezim Soeharto mewajibkan setiap umat Islam untuk taat kepada Pancasila dan UUD 45 yang buatan manusia. Soeharto tak hanya melarang setiap jengkal tanah di Indonesia diatur oleh syari’at Islam saja, tapi juga memburu dan menangkapi orang-orang yang ingin menegakkan syari’at Islam. Karenanya, penguasa orde baru kekafirannya lebih buruk dari penguasa Mongol, dan umat Islam harus memeranginya.

Jihad di Indonesia hukumnya fardlu ‘ain, karena negeri ini dikuasai pemerintah murtad. Meskipun begitu, JI tak sertamerta mendeklarasikan jihad. Alasannya jama’ah jihad ini belum siap, baik sumberdaya manusia, dana maupun senjata. Selain itu JI belum punya qoidah aminah (daerah basis yang aman). Dengan alasan-alasan inilah, JI lebih memprioritaskan program i’dad atau persiapan jihad. Ada dua program utama persiapan jihad yang dilakukan JI yaitu, pembinaan teritorial (binter), serta pembinaan personal (binper). Binter adalah pembinaan umat Islam di luar jama’ah yang tujuan akhirnya merekrut anggota baru. Sementara binter adalah pembinaan anggota jama’ah.

 

 

Older Entries

%d bloggers like this: