Pendahuluan

Tidak ada satu kegiatan yang dilakukan seseorang, kecuali tersirat di dalamnya keberaadannya kini dalam keadaan aman atau kebutuhannya akan rasa aman itu, kini atau masa datang. Manusia akan menetap di satu tempat atau berkonsenterasi dalam satu kegiatan bila ia merasa bahwa keamanannya terpenuhi. Karena kalau tidak, ia pasti akan hijrah ke tempat lain, atau memilih aktivitas yang melahirkan rasa aman.

Rasa aman yang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia itu dinilai lebih dibutuhkan daripada kesehatan. Yang sakit dapat tertidur, tetapi yang takut, sirna darinya kantuk. Yang sakit tapi merasa aman, tidak merasakan penyakitnya, sedang yang tidak merasa aman, walau sehat, akan selalu merasa terganggu hidupnya. Karena itu dapat dimengerti jika Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Siapa di antara kamu yang telah merasa aman hatinya, sehat badannya dan memiliki makanan sehari-harinya maka ia bagaikan telah dianugerahi dunia.” (HR. at-Tirmidzi)

Kata aman/keamanan terambil dari bahasa Arab. Dalam bahasa

Memang ada kaitan yang sangat erat antara ketiganya. Amanah diserahkan kepada satu pihak yang dipercaya bahwa apa yang diserahkan itu akan terpelihara dengan aman oleh yang diserahi.

 

Rasa Aman dan Aspek-aspeknya

Rasa aman adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan. Karena itu, tidak heran jika ditemukan sekian banyak firman Allah dan beraneka kosakata yang digunakan oleh al-Qur’an dan Sunnah untuk mengajak semua pihak agar menciptakan keamanan dan perdamaian di persada bumi ini. Kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf alif, mini, dan nun yang daripadanya terbentuk antara lain kata aman, iman, dan amdnah dalam berbagai bentuknya ditemukan mendekati angka seribu.

Bukanlah satu hal yang sulit untuk membuktikan pernyataan yang menyatakan bahwa Islam sangat mendambakan terciptanya rasa aman dan damai dalam segala aspeknya.

Penghormatan yang ditetapkannya atas hak-hak asasi manusia, kewajiban amar makruf dan nahi munkar, syura, dan lain-lain, demikian juga ajaran syariatnya seperti mewajibkan yang mampu membayar zakat kepada yang butuh sehingga terpenuhi kebutuhan mereka, atau anjurannya untuk sumbangan sukarela (sedekah) kecaman terhadap kekikiran, penolakannya terhadap segala bentuk tirani, seperti penumpukan harta pada satu kelompok, penggunaan harta secara batil, pengharaman riba dan eksploitasi, tuntunannya untuk berlaku adil walau terhadap keluarga dan diri sendiri, bahkan nama agama ini “Islam” dan sapaan yang dianjurkannya untuk diucapkan terhadap yang dikenal dan tidak dikenal “As salamu ‘Alaikum” kesemuanya dan masih banyak lainnya membuktikan kebenaran pernyataan itu. Demikian juga tuntunannya menyangkut pembinaan keluarga yang didasari antara lain oleh penyaluran dorongan seksual secara suci, dan benar serta didasari oleh mawaddah dan rahmat, hingga ketentuan-ketentuannya menyangkut hubungan antarpribadi dan masyarakat umat manusia, Muslim atau

menekankan bahwa perbedaan jenis dan warna kulit atau kepercayaan dan agama bukanlah penghalang bagi terciptanya perdamaian dan rasa aman dalam masyarakat.

Bahkan, bukan hanya terhadap manusia, terhadap lingkungan pun hubungan mesra harus dipelihara. Salah satu prinsip dasar interaksi yang ditetapkan Islam adalah la dharar wa la dhirdr yang mengandung arti larangan melakukan perusakan terhadap diri dan juga pihak lain—baik langsung maupun tidak langsung—termasuk larangan perusakan lingkungan, karena perusakannya mengakibatkan kerusakan diri dan makhluk lain, bahkan Rasulullah saw. melukiskan bahwa hubungan tersebut hendaknya berdasar cinta dan kasih sayang serta persahabatan. Karena itu, beliau melukiskan Gunung Uhud yang berlokasi tidak jauh dari kota Madinah bahwa “Gunung Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya”.

Sedemikian berharga rasa aman bagi manusia, sampai-sampai balasan di dunia yang dijanjikan Allah kepada mereka yang menyambut ajakan-Nya antara lain adalah rasa aman itu. Allah berfirman:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yangsaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh

untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. an-Nur [24]:55)

Sebaliknya, Allah mengancam dengan kelaparan dan rasa takut yang dapat menimpa masyarakat akibat kekufuran mereka. Dalam konteks ini Allah berfirman:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. an-Nahl [16]:112)

Dari kedua yang terbaca dengan jelas kaitan antara iman dan rasa aman. Seorang yang beriman/percaya akan merasa aman dengan siapa yang dipercayainya, sekaligus memberi keamanan kepada selainnya. Rasul saw. mengingatkan bahwa:

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak berirnan, derni Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Yang tidak memberi rasa aman tetangganya dari gangguannya” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Demikian sedikit dan banyak yang dapat dikemukakan …, Islam mendambakan lahirnya rasa aman dan keamanan dengan berbagai cara yang mencakup berbagai aspek, antara lain:

  1. Aspek sosial, yang antara lain mengandung perlindungan terhadap seseorang dan atau kelompok dari pelanggaran terhadap hak-haknya baik diri kehormatan maupun harta bendanya.
  2. Aspek ekonomi, yang mengandung tersedianya kebutuhan pokok, berupa sandang, pangan, dan papan, serta keterhindaran dari pemerasan, monopoli, pengangguran.
  3. Aspek politik, yang mengandung keharusan adanya demokrasi dan syura, serta kebebasan yang bertanggung jawab untuk mengemukakan pendapat/amar ma’ruf dan nahi munkar.
  4. Aspek keamanan nasional, yang mencakup rasa aman dari ancaman yang bersumber dari dalam maupun dari luar.

Keyakinan adalah unsur utama bagi terciptanya rasa aman. Agama melalui keyakinan tentang wujud Tuhan dan tuntunan-Nya mampu memberi bahkan menciptakan rasa aman itu.

 

Tauhid dan Rasa Aman

Dalam pandangan Islam puncak keyakinan agama dan syarat utama bagi terciptanya keamanan dan keselamatan duniawi dan ukhrawi adalah Tauhid, yakni keyakinan akan keesaan Allah swt. Kesadaran dan pengahayatar. terhadap keyakinan itu melahirkan rasa aman:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang rnendapat keamanan dan mereka itu adala^i orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. al-An’am [6]: 82)

Lalu, rasa aman tersebut melahirkan ketenangan batin:

“Orang-orang yangberiman dan liati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Q.S. ar-Ra’d [13]: 28)

Hati menjadi tenang, sebagai buah kepercayaan bahwa hanya Allah yang merupakan Penguasa Tunggal dan Pengatur alam raya dan yang dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu. Tidak ada yang dapat terjadi kecuali atas izin-Nya.

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus [10]: 107)

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada satu pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak satu (juga) pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Fathir [35]: 2)

Pesan ayat-ayat di atas—jika dihayati—mampu membebaskan akal dan pikiran manusia, ruh, dan jasadnya, jiwa dan isi relung hatinya yang terdalam dari segala raacam yang dapat membelenggunya, bebas dari rasa takut terhadap apa dan siapa pun, sehingga ia dapat bebas melangkah tapi dalam batas keterikatannya dengan Tuhan Yang Maha Esa dan tuntunan-tuntunan-Nya.

Tauhid adalah inti ajaran Islam, bahkan jika Anda ingin menggambarkan ajaran Islam dalam satu kata, maka tidak meleset jika Anda memilih kata tersebut. Tauhid merupakan prinsip lengkap yang menembus semua dimensi serta mengatur seluruh aktivitas makhluk. Dari tauhid lahir berbagai ajaran tentang kesatuan, misalnya kesatuan alam raya, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan umat manusia, kesatuan ilmu, dan dari kesatuan-kesatuan tersebut lahir lagi aneka tuntunan yang kesemuanya beredar pada prinsip tauhid itu.

Kedamaian dan keamanan misalnya, yang merupakan salah satu tuntunan agama yang terpenting, lahir antara lain dari pandangan Islam tentang kesatuan alam raya. Dalam kesatuannya itu alam raya berada di bawah kuasa dan pengaturan satu kuasa, yakni Allah swt, dan dalam kesatuannya itu semua makhluk harus bekerja sama. Nah, dari sini lahir lagi pijakan yang kukuh bagi perdamaian dan rasa aman.

Allah yang diyakini Maha Esa itu menyandingkan sifat-Nya as-saldm (Maha Damai), dengan sifat-Nya alMu’min (Pemberi rasa aman) (QS. al-Hasyr [59]: 23)’ dan menegaskan bahwa (Bhs. Arab)

Allah mengajak seluruh makhluk kepada kedamaian dari keamanan(QS. Yunus [10]: 25) serta menjanjikan semua yang memenuhi tuntunan-Nya bahwa mereka akan ditempatkan di akhirat nanti di negeri kedamaian (Dar as-Saldm) (QS. al-An’am [6]: 127). Sapaan penghormatan yang mereka ucapkan

Kitab suci terakhir yang diturunkan-Nya (al-Qur’an al-Karim) menegaskan adanya berbagai jalan yang dapat ditempuh manusia, dan semua jalan itu dapat direstui-Nya selama memiliki ciri kedamaian dan keamanan.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-oiang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. al-Ma’idah [5]: 16)

 

Rasa Aman Pemeluk Agama

Siapa yang tidak memiliki rasa aman, tidak mungkin dapat memberi atau menyalurkan rasa itu kepada pihak lain, karena Allah swt. menegaskan dirir.ya sebagai pemberi rasa aman, sekaligus menuntut agar rasa aman yang diperoleh itu disebarkan ke suluruh makhluk.

Rasa aman bagi setiap pemeluk agama diperoleh melalui keyakinan tentang kesesuaian sikap sang pemeluk dengan kehendak dan petunjuk Tuhan yang dipercayainya. Tentu saja, pemeluk setiap agama memiliki keyakinannya Mustahil akan tercipta rasa aman bila keyakinan itu terusik, ba k oleh yang bersangkutan se.idiri melalui rasa was-was dan ragu, lebih-lebih oleh orang lain.

Hal tersebut terjadi karena rasa aman hakiki adalah yang bersemai di dalam hati. Agaknya. inilah yang menjadi sebab utama sehingga Tuhan enggan mengnsung nurani, dengan menolak pemaksaan akidah serta tidak mviierima pernyataan iman yang tidak lahir dari lubuk hati seseorang.

“Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam); sesungguhnya telahjelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. al-Baqarah [2]: 256)

Di tempat lain dinyatakan-Nya bahwa:

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah engkau (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS. Yunus [10]: 99)

Dalam konteks memelihara keamanan dan rasa aman itu pula, al-Qur’an memerintahkan untuk tidak saling memaki dan menghina agama dan sembahan siapa pun:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, maka (akibatnya) mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami perindah bagi setiap umat amal mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. al-An’am [6]: 108)

Larangan memaki tuhan-tun’an dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama, guna memelihara kesucian agama-………………………………………………………….

antarumat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apa pun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu, dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, maki-memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Di sisi lain, makian dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki, sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang Muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

Di samping melarang maki-memaki, al-Qur’an juga mengingatkan tentang perlunya bekerja sama dalam kebajikan dan pemeliharaan tempat-tempat suci. QS. al-Hajj [22]: 40 rnenegaskan bahwa:

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-

masjid, yang di dalamnya banyak ………………………………………………………………………

Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagiMaha Perkasa”.

Dari ayat di atas dipahami bahwa Allah swt. tidak menghendaki kehancuran rumah-rumah ibadat, maka dari sini para ulama menetapkan bahwa menjadi kewajiban umat Islam, untuk memeliharanya. Bukan saja memelihara masjid-masjid, tetapi juga rumah-rumah ibadat umat yang lain, seperti gereja dan sinagog.

Dalam buku Futuh al-Buldan dikemukakan bahwa Hassan bin Malik mengadukan Kepada Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz (681-720 M) bahwa ia diberikan oleh salah seorang penguasa satu bangunan yang berfungsi sebagai gereja, tetapi umat Nasrani enggan melepaskannya. Umar kemudian menetapkan bahwa gereja tersebut harus tetap berfungsi sebagai gereja. Juga disebutkan dalam buku itu bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan merencanakan menggabung bangunan Gereja Yuhanna ke dalam Masjid Jami’ di Damaskus, tetapi umat Nasrani tidak setuju, maka dia mengurungkan niatnya, lalu penguasa sesudahnya, Abdul Malik bin Marwan, bermaksud sama tapi kali ini dengan membayar ganti rugi tawarannya pun ditolak oleh umat Nasrani. Penguasa sesudahnya Abdul Aziz bin Abdul Malik melanjutkan upaya dengan kesediaan memberi ganti rugi tak batas, dan ketika ini pun ditampik, ia memerintahkan menghancurkan bangunan itu dan menggabungnya ke masjid. Ketika Umar ibnu Abdul Aziz berkuasa, umat Nasrani mengadu kepada beliau, maka beliau menerima pengaduan itu dan memerintahkan untuk menjadikan area yang dimasukkan ke masjid itu kembali menjadi gereja.[1]

Pakar-pakar tafsir dan hukum Islam yang melarang merubuhkan gereja-gereja ahl al-dzimmali, atau menjualnya, demikian juga rumah- ……………………………………………………………

memberi kebebasan kepada non-Muslim melaksanakan syariat agama mereka, membunyikan lonceng-‘onceng gereja mereka dengan demikian: “Tidak boleh meruntuhkan rumah ibadah mereka, atau merusak salib-salib mereka. Bahkan, istri seorang Muslim yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, tidak boleh dilarang oleh suaminya melaksanakan ajaran agamanya”.[2] Demikian kesimpulan Sayyid Quthub.

Kita dapat berkata, bahwa karena ajaran Islam memberi kebebasan beragama kepada setiap anggota masyarakatnya, maka adalah menjadi kewajiban setiap umat Islam untuk ikut memelihara kebebasan dan ketenangan umat lain dalam melaksanakan ajaran agamanya. Umat Islam tidak boleh mengganggu mereka, sebagaimana umat Islam wajar untuk menuntut bahkan mengambil langkah agar mereka tidak diganggu oleh siapapun.”

Demi memelihaja rasa aman agak tidak terusik oleh siapapun termasuk oleh diri pemeluk agama itu sendiri maka Allah Yang Maha Kuasa itu menoleransi bisikan-bisikan hati yang sesekali muncul dalam benak seseorang. Sekali lagi, Dia menoleransinya karena agama yang ditetapkan-Nya tidak ingin mengusik rasa aman dan damai manusia walau oleh dirinya sendiri.

Ketika ada seseorang yang mengucapkan salam, dibunuh oleh seorang Muslim, karena sang Muslim menduga bahwa yang bersangkutan hanya ingin menutupi kekufurannya agar selamat, ketika itu terjadi-turun firman Allah mengecam sang Muslim sambil memberi petunjuk.

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam”kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.. (QS. an-Nisa’ [4]: 94)

Firman-Nya, “Begitu jugalah keadaan kamu dahulu” dipahami oleh sementara pakar tafsir dalam arti: Dulu nurani kalian juga tidak percaya pada Islam, tetapi Allah membiarkan kamu, karena Dia tidak bermaksud mengusung nurani, atau menghilangkan rasa aman dalam jiwa kamu.

Sementara itu ada sahabat Nabi yang merasakan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya menyangkut Tuhan. “Wahai Nabi ada suatu ganjalan dalam jiwa kami. Lebih baik rasanya kami terjerumus ke jurang yang dalam daripada mengucapkannya”. Nabi saw. bertanya, “Apakah kalian telah merasakan itu?” Mereka mengiyakan lalu Nabi saw. berkomentar, “Aihamdulillah, itulah iman, Alhamdulillah Tuhan telah menggagalkan tipu daya setan sehingga hanya menjadikannya keraguan. Nabi pun pernah ragu dan kita lebih wajar ragu daripada beliau”. Demikian tiga komentar Nabi saw. Kedua teks terakhir yang disebut di atas menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai nurani, sampai-sampai “bisikan-bisikan hati yang tidak wajar pun menyangkut diri-Nya dibiarkannya dengan harapan apa yang tidak wajar segera akan berlalu.

Demi terpeliharanya rasa aman itu pula, gangguan kepada pihak lain harus dihindari, kendati gangguan itu tidak diketahui atau dirasakan oleh yang diganggu. Karena itu, dilarangnya apa yang diistilahkan dengan ghibah, yakni membicarakan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang dibicarakan, kendati apa yang dibicarakan itu benar.

Rasa aman yang bersumber dari lubuk jiwa yang dalam akan meningkat ke rasa aman dan damai pada tingkat keluarga kecil, lalu masyarakat, dan bangsa hingga seluruh persada bumi.

 

Rasa Aman Bagi Seluruh Makhluk

Kedamaian dan rasa aman adaiah syarat mutlak bagi tegak dan sejahteranya satu masyarakat. Keamanan dan kesejahteraan merupakan dua hal yang kait-berkait. Jika tak ada rasa aman, maka kesejahteraan tidak dapat diraih dan dirasakan dan bila kesejahteraan tidak wujud, maka keamanan tidak dapat terasa, bahkan kekacauan dan kegelisahan tumbuh subur. Itu sebabnya ditemukan al-Qur’an menggarisbawahi keduanya bahkan menyandingkannya antara lain dengan merekam permohonan Nabi Ibrahim as. yang yang menyatakan:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Tuhanku, jadikanlali negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka_dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. ” (QS. al-Baqarah [2]: 126)

Nabi agung itu dalam permohononannya membatasi permintaannya menyangkut keamananan dan kesejahteraan hanya khusus untuk orang-orang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tetapi oleh Allah pembatasan tersebut ditampik-Nya sambil menegaskan-sebagaimana terbaca di atas—bahwa yang kafir pun akan dianugerahi-Nya kesenangan di dunia—walaupun di akhirat nanti Allah akan memaksanya merasakan pedihnya neraka. Ini berarti bahwa Allah menghendaki dan memerintahkan agar keamanan dan kesejahteraan harus dapat menyentuh semua anggota masyarakat yang beriman maupun yang kafir.

Hal ini dipertegas oleh QS. at-Taubah [9]: 6, di mana Allah memerintahkan Nabi Muhammad” saw. (dari umat Islam) dengan firman-Nya:

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia aapat mendengar firman Allah, kemudian antarlah ia ke tempat yang c man baginya”. (QS. al-Taubah [9]: 6)

Maksudnya, jangan paksa ia beriman, jangan juga menahannya di tempat kamu bila ia ingin meninggalkan kamu, tetapi biarkan dia pergi bahkan antar dia ke tempat yang aman.

Mufti Mesir dan Syekh al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi, menulis dalam tafsirnya bahwa pemberitaan rasa aman dan perlindungan itu merupakan puncak dari perlakuan yang diajarkan Islam terhadap kaum musyrik, dan puncak dari segala puncak adalah pengawalan dan penjagaan yang diberikan kepada sang musyrik—yang secara teoretis berpotensi menjadi musuh Islam dan kaum Muslim—hingga ia keluar perbatasan wilayah Islam.

Ayat ini juga menjadi bukti bahwa kendati seseorang itu musyrik-selama tidak bermaksud jahat kepada kaum Muslim-mereka pun adalah manusia yang berhak memperoleh perlindungan, bukan saja menyangkut nyawa dan harta benda mereka, tetapi juga menyangkut kepercayaan dan keyakinan mereka. Ayat ini menunjukkan betapa Islam memberi kebebasan berpikir serta membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap orang untuk menemukan kebenaran dan dalam saat yang sama memberi perlindungan kepada mereka yang berbeda keyakinan, selama mereka tidak mengganggu kebebasan berpikir dan beragama pihak lain.

Sekali lagi, al-Qur’an sangat mendambakan terciptanya kedamaian dan kesejahteraan. Hakikat ini terbaca juga dalam QS. Quraisy [106]: 3-4. Di sana Allah menyebut dua anugerah besar yang dinikmati oleh masyarakat Mekkah pada masa Nabi Muhammad saw, yaitu nikmat keamanan dan nikmat kecukupan pangan/kesejahteraan. Allah berfirman:

“Maka, hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’hah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

Anda baca bahwa dengan terwujudnya rasa aman dari gangguan dan dengan terpenuhinya kebutuhan pangan maka menjadi sangat wajar bagi siapa pun yang menikmati kedua hal tersebut untuk beribadah/mengabdi kepada Allah. Nah, jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya sebagai salah satu tujuan penciptaan manusia dan jin (Q.S. al-Dzariyat [51]: 56)”, maka itu berarti menjadi kewajiban semua manusia untuk berpartisipasi dalam terwujudnya rasa aman itu.

Ayat di atas ini juga mengisyaratkan bahwa rasa aman mendahului kewajiban beribadah. Hal tersebut wajar bukan saja karena sekian banyak ibadah yang diwajibkan Allah yang gugur akibat tidak terpenuhinya rasa aman. Ambillah sebagai contoh, ibadah haji yang salah satu syaratnya adalah keamanan dalam perjalanan. Demikian juga shalat-walau tidak gugur—tetapi bila rasa aman tidak terpenuhi maka bentuknya pelaksanaannya berubah atau apa yang dikenal dalam bahasan hukum dengan shalat al-khauf (shalat pada waktu takut).

 

Islam dan Perang

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dan membela kebenaran, serta mengelakkan penganiayaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi, yang pertama perlu digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum beriman adalah tidak menyukai perang. Ini ditegaskan oleh al-Qur’an ketika berbicara tentang kewajiban berperang, demi tegaknya keadilan dan perdamaian, Allah berfirman:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu tidak senangi. (Tapi) boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padchal ia buruk bagi kamu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. al-Baqarah [2]: 216)

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiayaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi maka semua yang tidak terlibat hams dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkungan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan begitu penganiayaan terhenti.

“Dan perangilah mereka itu, (yang sehingga tidak ada lagifitnah dan (sehingga) ketaatan hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yangzalim (QS. al-Baqarah [2]: 193)

Yang dimaksud dengan “ketaatan hanya semata-mata untuk Allah” adalah bahwa ketentuan-ketentuan Allah harus ditaati, antara lain memberi kebebasan kepada siapa pun untuk memilih dan mengamalkan agama dan kepercayaannya karena masing-masing akan mempertanggungjawabkannya sesuai firman-Nya lakum dinukum wa liya dm (QS. al-Kafirun [109]: 6)

Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim dalam ayat ini mencakup orang-orang kafir yang terus melakukan agresi, dan juga kaum Muslim yang melanggar tuntunan penghentian permusuhan itu. Dan jika itu terjadi, maka Allah akan membiarkan mereka dilanda agresi dan permusuhan melalui apa atau siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa jika ada ajakan damai, dari siapa pun maka ajakan itu harus disambut:

“Dan jika merek i condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah YangMaha Mendengar lagiMaha Mengetahui”. (QS. al-Anfal [8]: 61)

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum kafir pun memperoleh rasa aman, namun tentu saja rasa aman yang sempurna dirasakan oleh orang-orang Mukmin.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanannya dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al-An’am [6]: 82)

Sejalan dengan ini, seeorang yang meneladani sifat Allah, as-salam, paling tidak, bila tidak dapat memberi manfaat kepada selainnya, maka jangan sampai dia mencelakakannya, kalau dia tidak dapat memasukkan rasa gembira ke dalam hatinya, maka paling tidak jangan ia meresahkannya, kalau dia tidak dapat memujinya, maka paling tidak dia jangan mencelanya.

Jangankan terhadap yang tidak berbuat baik, terhadap vang yang berbuat jahil pun al-Qur’an menganjurkan agar diberikan kepadanya “saldm” karena demikian itulah sifat hamba-hamba Allah yang Rahman:

Hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih ialah mereka. yang berjalan dibumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa (memperlakukan mereka dengan kejahilan) mereka berkata saldma (yaknibersikap damaidan mencarikeselamatan bersama)”. (QS. al-Furqan [25]: 63)

Sikap itu yang diambilnya karena al-salam/keselamatan adalah batas antara keharmonisan/kedekatan dan perpisahan, serta batas antara rahmat dan siksaan. Inilah yang paling wajar atau batas mainimal yang diterima seorang jahil dari hamba Allah yang Rahman, atau si penjahat dari seorang yang Muslim, atau yang meneladani Allah yang memiliki sifat al-Mu’min (Pemberi rasa aman). Itu dilakukannya dalam rangka menghindari kejahilan yang lebih besar atau menanti waktu untuk lahirnya kemampuan mencegahnya. Demikian, Wallahu A’lam.