Pada akhir 1987 Jama’ah Darul Islam berhasil mengkonsolidasi diri. Berbagai faksi DI berhasil disatukan, dan sepakat mengangkat Ajengan Abdullah Masduki sebagai imam baru DI. Kelompok usroh pimpinan Abdullah Sungkar ikut bergabung. Sungkar sendiri diangkat menjadi KUKT (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi) Luar Negeri atau semacam Menteri Luar Negeri. Peran Sungkar sangat sentral, karena program utama DI dibawah pimpinan Ajengan Masduki adalah diplomasi luar negeri dan militerisasi. Keduanya sempat berkunjung ke Afghanistan menemui Syaikh Rasul Sayyaf untuk meminta bantuan militer. Syaikh Sayyaf menyetujui untuk terus membiayai diklat militer bagi para kader DI.

Namun keakraban antara Sungkar dengan Ajengan Masduki berjalan singkat. Pada awal 1990-an keduanya berselisih. Salahsatu penyebabnya adalah kritikan keras Abdullah Sungkar terhadap praktik keagamaan Masduki yang dianggap menyimpang karena Imam DI ini seorang penganut ajaran thariqat, yang dianggap menyimpang menurut paham Salafy Jihadi. Sungkar meminta Masduki meninggalkan paham Sufi itu. Namun Masduki menolak, ia tetap kukuh dengan keyakinannnya. Buntut dari perselisihan ini, Sungkar dan kawan-kawan memutuskan untuk keluar dari Darul Islam pada 1992. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa imtishol (perpecahan).

Pasca imtishol (perpecahan) dengan DI (Darul Islam), Abdullah Sungkar membuat jama’ah baru pada 1993. Jama’ah baru ini meniru sebuah jama’ah jihad di Mesir. Sungkar memilih nama yang sama: Jama’ah Islamiyah. Tak hanya itu, sembilan prinsip perjuangan gerakan jihad Mesir ini juga diadopsi oleh jama’ah baru Sungkar. Orientasi jihadnya pun sama, berjihad melawan pemerintah murtad. JI melihat rezim orde baru sebagai musuh utama yang harus diperangi. Alasannya memerangi kafir mahaly [kafir tempatan] yaitu pemerintah murtad lebih utama dari jihad melawan kafir ajnaby [kafir asing], yang kini menduduki negeri-negeri Islam seperti Palestina, Mindanao, Kashmir dan Iain-lain. Kenapa? Karena musuh yang dekat, lebih berbahaya dari musuh yang jauh. Selain itu, menurut syari’at Islam, hukuman bagi orang murtad lebih berat dari kafir harby [kafir asli].

Memerangi musuh yang jauh, seperti Amerika dan sekutunya tak terpikirkan saat itu. Gagasan memerangi Amerika baru mengemuka pada 1998-an. Saat itu Usamah bin Laden mengeluarkan fatwa yang intinya menyatakan, membunuh warga Amerika di mana pun mereka, berada adalah seutama-utama kewajiban setelah iman kepada Allah. Seruan ini menimbulkan pro-kontra di tubuh JI. Muncul kubu yang pro Bin Laden yang dipimpin oleh Hanbali dan Ali Ghufron alias Mukhlas. Sebaliknya ada juga kubu yang dipimpin Thoriqudin dan Ahmad Roihan yang tetap bersikukuh bahwa prioritas utama JI adalah jihad melawan musuh yang dekat, yaitu pemerintah murtad, bukan musuh yang jauh seperti Amerika.

Pro kontra ini sempat mereda setelah muncul konflik komunal antara umat Islam versus umat Kristen di Maluku dan Poso pada 1999/2000. Di wilayah konflik kedua kubu sepakat bahwa musuh utama mereka adalah kaum Kristen fanatik yang menyerang umat Islam. Pertanyaan mana yang lebih utama diperangi apakah musuh yang jauh seperti kafir harby, atau musuh yang dekat seperti kaum murtad menjadi tak relevan karena di wilayah konflik musuh yang dekat, justru orang-orang kafir harby, yaitu umat Nasrani.

Konflik komunal reda pada pertengahan 2001. Tanpa disangka terjadi aksi penyerangan WTC 9 September 2001. Aksi penyerangan ini menginspirasi kembali kelompok Hanbali untuk melaksanakan hajat mereka berperang melawan musuh-musuh Islam, yaitu Amerika dan sekutunya. Setahun kemudian hajat itu terlaksana. Bom mobil seberat satu ton meledakkan dua pusat hiburan di Bali pada 12 Oktober 2002. Hasilnya mengerikan, 200 orang kehilangan nyawa, 600-an orang terluka. Aksi ini sempat disebut-sebut sebagai serangan terbesar pasca 9/11. Bab ini akan menggambarkan perjalanan sebuah jama’ah jihad di Indonesia pada periode 1993 hingga Bom Bali 2001. Bagaimana Sungkar dan kawan-kawan membuat jama’ah baru ini, serta buku-buku apa saja yang menjadi rujukan juga akan dipaparkan di sini. Selain itu proses militerisasi JI dalam rangka mempersiapkan jihad akan diterangkan di bab ini. Tak lupa juga akan diungkapkan bagaimana ajaran-ajaran Salafy Jihadi dipraktikkan dalam berbagai aksi teror mulai tahun 2000 hingga 2002.