Namun belakangan hubungan antara Ajengan Masduki dengan Abdullah Sungkar memburuk. Pemicunya adalah permintaan Ajengan Masduki kepada Abdullah Sungkar untuk membuka kedutaan-kedutaan Darul Islam di negara-negara Islam. Permintaan ini langsung ditolak Abdullah Sungkar. Di mata Abdullah Sungkar dan sebagian para kader DI di Afghanistan, pandangan bahwa jama’ah Darul Islam disamakan sebagai Negara Islam Indonesia harus dikoreksi. Pasalnya pasca 1962, DI sudah tak menguasai satu pun wilayah di Indonesia. Sungkar dan kawan-kawan merujuk kepada pandangan Salafy yang mendefmiskan bahwa Negara Islam adalah negara yang dipimpin oleh orang Islam, menguasai wilayah tertentu dan di wilayah itu ditetapkan syari’at Islam. Sementara itu pandangan Ajengan Masduki dan kawan-kawan masih menganggap bahwa meskipun DI tak menguasai satu wilayah pun, bukan berarti Negara Islam Indonesia tidak eksis. Yang terjadi adalah Darul Islam eksis, tapi wilayahnya sekarang direbut musuh, yaitu Republik Indonesia.

 

Perselisihan kian menajam setelah Abdullah Sungkar mengkritik berbagai praktik keagamaan Ajengan Masduki yang dianggap menyimpang. Imam DI yang baru ini memang penganut thariqat yang justru dianggap sesat dimata paham Salafy. Seorang alumni Afghanistan menuturkan,

 

“la pernah bercerita bahwa ia memiliki ilmu laduni. Dengan ilmu ini ia bisa menghapal Al Quran dalam waktu tiga hari. Lucunya ia sendiri tak hapal Al Quran. Ia juga berkeyakinan bisa melihat Nabi Muhammad dalam keadaan tidak mimpi, padahal dalam ajaran Salafy Nabi Muhammad yang telah wafat, hanya bisa hadir dalam mimpi. Ia juga menyakini bahwa dirinya mampu menerima wangsit atau ilham dari Allah yang disebutnya dengan istilah khitab. Lueunya kalau terjadi rapat, hasil rapat itu tak pernah dipakai oleh Ajengan Masduki. Kalau rapat dia diam aja, tiba-tiba dia mengatakan telah mendapat khitab, khitab atau wangsit itu yang dia pakai sebagai keputusan rapat. Sementara hasil-hasil rapat selama berjam-jam itu diabaikan begitu saja.

 

Abdullah Sungkar sendiri berkali-kali memperingatkan Ajengan Masduki untuk meninggalkan ajaran Thareqat. Namun Masduki menolak, ia tetap berkukuh dengan keyakinannya. Perselisihan makin memburuk lagi, setelah beberapa tokoh DI lama dikritik pemahaman agamanya, oleh murid-murid Abdullah Sungkar, yang juga alumni Afghanistan. Seperti kasus yang dialami oleh Gaos Taufik, tokoh DI Sumatera yang sempat ditangkap karena kasus Komando Jihad ini berkali-kali tersinggung oleh pernyataan Fihirudin. Orang kepercayaan Gaos Taufik menceritakan,

 

“Gara-garanya Gaos Taufik dianggap tak ngerti Islam. Aki (sebutan Gaos Taufik di kalangan DI), kalau ngonnong tak pernah mengeluarkan ayat dan hadis. Sehingga orang-orang Sungkar sering merendahkan Aki. Bahkan pernah satu kali Aki cerita bahwa dirinya saat bertugas di Jawa Barat pernah terkepung oleh pasukan TNI, tapi Aki kemudian merapalkan ajian-ajian yang dia miliki, sehingga dia bisa menghilang dan TNI gagal menangkapnya. Cerita ini langsung mendapat reaksi keras dari orang-orangnya Sungkar di Malaysia. Aki dianggap telah berbuat musyrik.

 

Sikap Abdullah Sungkar dan murid-muridnya ini membuat para petinggi DI lama menjadi marah. Mereka menuding Sungkar telah membangkang terhadap Imam DI, dan melecehkan pemahaman agama orang-orang DI. Tanpa diduga, para petinggi DI ini kemudian melakukan semacam manuver politik untuk menyingkirkan Sungkar. Tiba-tiba Ajengan Masduki membuat tim pemeriksa keuangan, atas bantuan-bantuan dana pengiriman kader-kader DI ke Afghanistan. Ajengan Masduki menunjuk Mamin Mansyur dan Gaos Taufik untuk memeriksa laporan keuangan dari bantuan tersebut. Pengelolaan keuangan yang sangat amatiran memang membuat Abdullah Sungkar kelabakan ketika diminta pertanggungjawaban. Ustadz asal Ngruki ini tak bisa menjawab secara memuaskan. Akibatnya timbul isu bahwa Abdullah Sungkar telah melakukan penyelewengan keuangan. Sebenarnya tudingan penyelewengan itu terlalu berlebihan. Salah seorang kader DI yang mendampingi Gaos Taufik dan Mamin Mansyur ketika melakukan pemeriksaan keuangan itu mengakui,

 

“Mungkin sebenarnya bukan penyelewengan seperti korupsi. Cuma pengelolaannya yang masih sangat tradisional dan amatiran. Tak jelas penggunaannya, tak jelas laporannya. Dan dipakai hanya untuk kepentingan orang-orang Sungkar, sementara itu bantuan sama sekali tak menetes ke Indonesia. Kan mestinya dana itu diberikan ke Indonesia juga, soalnya kan mereka mendapat bantuan menjual nama DI.

 

Selain soal isu penyelewengan keuangan, juga muncul tudingan bahwa Abdullah Sungkar menolak mengembalikan para alumni Afghanistan ke Komandemen Wilayah (KW)-nya masing-masing. Abdullah Sungkar ngotot bahwa semua alumni Afghanistan harus di bawah dibawah komando dirinya.

 

Perselisihan-perselisihan itu berbuntut imtishol atau perpecahan antara Abdullah Sungkar dengan Ajengan Masduki. Pada 1992, Sungkar dan para pengikutnya secara resmi menyatakan keluar dari jama’ah Darul Islam.