Segera setelah menyatakan diri keluar dari Darul Islam, Abdullah Sungkar bekerja menyusun jama’ah baru di Malaysia. la dibantu oleh beberapa rekan-rekannya seperti Abu Bakar Ba’asyir, Thoriqudin alias Hamzah dan Iain-lain. Jama’ah yang mereka bagi adalah jama’ah bermazhab Salafy yang bertujuan iqomatudien (menegakkan syari’at Islam) lewat jalan jihad fisabilillah.17 Berbagai maroji atau buku-buku rujukan yang berkaitan dengan jama’ah dikaji dan didiskusikan. Ada tiga buku penting yang menjadi rujukan. Pertama, At Thoriq ilajama’atil Muslimin (Menuju Jamiatul Muslimin) karya Hussain bin Muhammad bin Ali Jabri. Kedua, Al Manhaj Al Haraki Li Sirah An Nabawiyah (Manhaj Haraki atau Metode Pergerakan Menurut Sejarah Perjuangan Nabi) karya Syaikh Munir Muhammad Al Ghadhban. Terakhir, Mitsaq Amal Al hlamy (Pedoman Amal Islam)karya Najih Ibrahlm, Ashlm Abdul Majid, Ishamudin Darbalah. Dua buku pertama menjadi buku pelengkap, sementara buku ketiga sumber rujukan utama.

Saat itu buku At Thoriq ila]amaatil Muslimin bisa dikatakan buku satu-satunya yang membahas secara rinci soal jama’ah. la membahas mulai dari pengertian syar’i soal jama’ah, hingga memaparkan dan mengevaluasi kinerja dan fikrah (pemikiran) jama’ah-jama’ah terkemuka, seperti lkhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, jama’ah Tablig, Anshar As-Sunnah. Buku ini mengatakan bahwa pengertian jama’ah yang sebenarnya, adalah Khilafah Islamiyah atau pemerintahan yang meliputi seluruh dunia Islam. Khilafah Islamiyah inilah yang disebut jama’atul Muslimin. Ketika khilafah sudah tiada maka, jama’ah-jama’ah yang ada saat ini, seperti lkhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan termasuk Darul Islam, hanyalah jama’atul Minal Muslimin atau jama’ah dari sebagian umat Islam yang mengupayakan berdirinya khilafah atau Jama’atul Muslimin. Dari pengertian inilah, kelak Sungkar dan kawan-kawan sering menyebut jama’ah yang mereka bentuk, sebagai jama’atul Minal Muslimin (jMM).

Sementara itu buku Manhaj Haraki sempat mempesona Sungkar dan kawan-kawannya. Penulisnya yang saat itu merupakan dosen Universitas Umul Quro, Mekah, Arab Saudi, mampu menawarkan manhaj (metode) perjuangan jama’ah Islam zaman modern dengan merujuk kepada sirah Nabawiyah (Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad). Marhalah (periode) demi marhalah pergerakan Nabi dikupas dengan sangat memikat, seraya dibedah watak dan karakteristiknya, lalu diproyeksikan dan direkonstruksi ke dalam iklim pergerakan Islam kontemporer. Taktik dan strategi yang dilakukan oleh Rasulullah untuk menyebarkan Islam, dikaji dengan teliti, dan kemudian dibahas, bagaimana sebuah jama’ah bisa mempraktikkan taktik dan strategi itu dalam kondisi kekinian. Salahsatu strategi yang kemudian diadopsi oleh Sungkar dan kawan-kawan adalah jahriyatu Ad Da’wah dan Sirriyatu At Tanzim. (Berdakwah Secara Terang-Terangan dan Merahasiakan Organisasi). Strategi ini diterapkan oleh Nabi Muhammad ketika berdakwah di Mekkah. Strategi ini adalah tahapan lanjutan dari strategi sebelumnya, yaitu Sirriyatu Ad Da’wah dan Sirriyatu At Tanzhlm (Berdakwah Secara Rahasia dan Merahasiakan Organisasi). Strategi pertama berakhir setelah Rasulullah mempunyai kader-kader inti yang kuat. Nah, strategi kedua inilah yang kemudian diadopsi oleh Sungkar dan kawan-kawan.

Saat membahas buku ini, sempat ada usulan untuk mengadopsi isi buku ini sebagai manhaj jama’ah yang akan dibentuk. Namun, hal ini ditolak oleh Sungkar karena ia melihat terdapat hal-hal syubhat dalam buku ini. Salahsatunya buku ini menyebutkan bahwa istifadah atau memanfaatkan undang-undang jahiliyah untuk kemaslahatan dakwah diizinkan. Hal ini merujuk pada dua peristiwa di zaman Rasulullah. Pertama, perlindungan Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad yang juga keponakannya untuk melakukan dakwah. Kedua, kasus perlindungan Ibn Daghnah, kepala suku Qarah, kepada Abu Bakar, untuk melaksanakan ibadah shalat. Hukum jahiliyah saat itu membenarkan bila ada pemuka masyarakat, seperti Abu Thalib atau Ibn Daghnah memberikan perlindungan terhadap orang yang dianggap lemah, maka orang itu tak bisa diganggu. Buku ini mengutip kasus Sayyid Qutb. Ketika ditangkap, ia mengajukan gugatan kepada pemerintah Mesir dengan menggunakan undang-undang mesir yang dianggap jahiliyah. Menurut buku ini, hal itu dibolehkan menurut syar’i. Lebih jauh buku ini memuji demokrasi walaupun diakui bahwa demokrasi adalah sistem non-Islam. Penulisnya menyebutkan bahwa demokrasi lebih baik bagi harakah Islam daripada sistem diktator atau tirani. Disebutkan,

 

“la adalah sistem yang cocok untuk menggelar dakwah dan menyebarkannya. Ia sekalipun merupakan sistem jahiliyah, lebih bermanfaat bagi kaum Muslimin daripada sistem jahiliyah yang lainnya. Ia biasanya menjamin kebebasan mengungkapkan pendapat dan kebebasan berakidah, atau dengan ungkapan lain, kebebasan beribadah dan kebebasan berdakwah.

 

Sementara itu Sungkar menganggap bahwa perbuatan tersebut bisa merusak akidah seorang muslim terutama berkaitan dengan al wala wal bara (loyalitas kepada orang beriman termasuk loyalitas kepada syari’at Islam dan permusuhan terhadap orang kafir termasuk permusuhan hukum jahiliyah). Di mana dalam ajaran ini ditekankan, jangankan memanfaatkan undang-undang thogut, memakai pakaian mirip orang nonmuslim saja, seperti memakai jas dan dasi adalah perbuatan terlarang. Selain itu Sungkar juga keberatan dengan pujian ini terhadap demokrasi, karena dalam pandangannya demokrasi adalah kemusyrikan yang tak terampuni. Pasalnya sistem ini telah menempatkan kekuasan ada di tangan rakyat, padahal kekuasan yang sebenarnya ada di tangan Tuhan.

Buku Mitsaq Amal Island (Pedoman Amal Islam) karya para tokoh Jama’ah Islamiyah Mesir inilah yang kemudian dijadikan rujukan utama oleh Sungkar dan kawan-kawan dalam membentuk jama’ah baru.Buku ini menjawab sembilan pertanyaan mendasar bagi sebuah jama’ah Islam. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah, apakah tujuan akhir perjuangan sebuah jama’ah? Apakah akidah yang harus dipegang teguh? Apakah paham yang dengannya sebuah jama’ah bisa bergerak? Apa jalan yang digunakan untuk mewujudkan sasaran-sasaran perjuangan sebuah jama’ah? Apa bekal bagi jama’ah untuk berjuang? Kepada siapakah loyalitas diberikan? Dan, siapakah musuh sebuah jama’ah Islam? Siapakah yang bisa kita terima bergabung dengan jama’ah? Dan siapakah yang kita tolak? Seluruh jawaban atas sembilan pertanyaan itu kemudian dijadikan prinsip perjuangan Jama’ah Islamiyah Mesir.

 

Kesembilan prinsip itu adalah:

  1. Tujuan Kami, Ridha Allah Taala dengan memurnikan keikhlasan kepadaNya dan merealisasikan Peneladanan kepada Nabi-Nya saw.
  2. Akidah Kami, Akidah Salafus Shalih.
  3. Paham Kami, Kami memahami Islam secara utuh sebagaimana pemahaman para ulama terpercaya yang mengikutu sunnah Nabi dan sunnah Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin radhiyalla.hu ‘anhum.
  4. Sasaran Kami, Menghambakan manusia hanya kepada Allah dan menegakkan kekhalifahan menurut manhaj nubuwah (metode kenabian).
  5. Jalan Kami, Melaksanakan dakwah, amar ma’ruf nahyi mungkar dan jihad fisabilillah, melalui jama’ah yang gerakannya berdisiplin mengikuti syari’at yang hanif, yang tidak berkompromi dan menyimpang, serta mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman masa lalu.
  6. Bekal Kami, Takwa dan ilmu, yakin dan tawakal, syukur dan syabar, zuhud dan mengutamakan akhirat.
  7. Loyalitas Kami, Kepada Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman.
  8. Permusuhan Kami, Terhadap orang-orang zalim.
  9. Perhlmpunan Kami, Untuk satu tujuan, berdasarkan satu akidah, dan di bawah panji-panji satu pola fikir.

 

Semua prinsip itu oleh Sungkar dan kawan-kawan diadopsi menjadi prinsip perjuangan jama’ah yang mereka buat. Selain itu, dilakukan penyempurnaan redaksional pada beberapa poin, serta penambahan satu poin baru sehingga total menjadi 10 prinsip. Misalnya prinsip nomor lima diubah menjadi, jalan kami adalah iman, hijrah dan jihad fisabilillah. Dari prinsip nomor lima ini kita melihat pengaruh Darul Islam masih melekat di jama’ah Sungkar. Sedangkan prinsip nomor delapan diubah menjadi, musuh kami syetan Jin dan syetan manusia. Sementara poin yang ke 10 berbunyi, “Pengalaman Islam kita adalah murni dan kaffah, dengan sistem Jama’ah, kemudian Daulah, kemudian Khilafah.

Kesepuluh prinsip itu dijadikan nilai-nilai utama dalam penyusunan manhaj (metode) perjuangan serta aktivitas yang akan dilakukan oleh jama’ah baru. Manhaj dan aktivitas yang disusun tak boleh melanggar kesepuluh prinsip itu. Misalkan, jama’ah baru ini dilarang memilih jalan parlementer untuk iqomatudien atau menegakkan syari’at Islam. Jalan parlementer dianggap melanggar prinsip iman hijrah dan jihad, dan melanggar prisip akidah Salafy yang menganggap demokrasi sebuah kemusyrikan. Pengadopsian prinsip-prinsip perjuangan dalam buku Mitsaq Amal Islami telah menjadikan jama’ah baru yang dibentuk menjadi, “Sanaa dan sebangun dengan Jama’ah Islamiyah Mesir,” kata Abu Bakar Ba’asyir. Tak hanya itu, nama yang dipilih pun sama, Jama’ah Islamiyah.

Segera setelah jama’ah baru ini diresmikan, Abdullah Sungkar mengutus orang-orang kepercayaannya mendatangi orang-orang DI. Tujuannya: mengajak mereka bergabung dengan Jama’ah Islamiyah. Nasir Abbas menceritakan pengalamannya,

“…pada suatu waktu di Towrkham, Afghanistan, sekitar Januari 1993, saya dipanggil oleh Zulkarnain ke Peshawar, yang kemudian saya diberitahukan tentang Ust. Abdul Halim (Abdullah Sungkar) dan Ust. Abdus Somad (Abu Bakar Ba’asyir), yang memisahkan diri mereka dari Jama’ah NIL Sehingga saya diberi peluang untuk memilih salahsatu pemimpin sebagai pimpinan yang diikuti yaitu Ust. Abdul Halim atau Ajengan Masduki. Dengan penjelasan bahwa seandainya saya memilih Ust. Abdul Halim, maka saya masih berpeluang untuk tetap tinggal di Afghanistan, tetapi seandainya saya memilih Ajengan Masduki, maka akan diuruskan pemulangan saya ke Malaysia secepatnya. Menurut Zulkarnain, semua teman-teman akan ditanya dan ditawarkan dengan hal yang sama. Supaya pendirian sikap seseorang tidak dipengaruhi oleh yang lain, maka Zulkarnain hanya melakukan penjelasan dan penawaran itu secara empat mata saja, demikianlah praktek yang selalu dilakukan oleh para pemimpin Jama’ah Nil dan juga oleh Al-Jama’ah Al Islamiyah. Dan beliau mengingatkan untuk tidak memberitahu siapa pun dari teman-teman tentang keputusan dan pilihan yang telah dibuat. Oleh karena saya masih ingin berada di Afghanistan dan saya tidak begitu cenderung bertanya lebih dalam tentang konflik yang terjadi di peringkat pimpinan atasan, maka saya memilih Ust. Abdul Halim sebagai pimpinan saya, yang memang juga saya sudah lama mengenali beliau. Selanjutnya saya diminta untuk berbaiat terhadap pemimpin saya yang baru yaitu kepada Ust. Abdul Halim yang diwakili oleh Zulkarnaen, maka dengan demikian saya sudah bukan lagi anggota Jama’ah NIL Dengan arti kata lain bahwa saya sudah menjadi anggota sebuah jama’ah baru di bawah pimpinan Ust. Abdul Halim.

 

Sebagaimana Nasir Abas, mayoritas para kader DI yang berada di Afghanistan memutuskan bergabung dengan jama’ah Sungkar. Tak semuanya, ada juga yang ragu dan menolak. Dadang alias Mughiroh, salah seorang instruktur Akademi Milker Afghanistan menolak bergabung. la tetap memilih setia kepada Ajengan Masduki. Sementara itu, Jabir dan Abdul Aziz alias Imam Samudera ragu-ragu menentukan pilihan. Mereka yang menolak dan ragu-ragu dipulangkan ke Malaysia dan Indonesia. Belakangan Jabir dan Abdul Aziz berhasil diyakinkan Hanbali untuk memilih JI.33 Di Indonesia, mayoritas alumni Afghanistan juga bergabung dengan Sungkar. Ini bisa dimengerti, karena mayoritas dari mereka berasal dari kelompok usroh. Hanya sebagian kecil veteran Afghanistan yang tetap setia kepada Ajengan Masduki.