Binter dan MTI (Materi Taklimat Islamiyah)

Sejak awal JI menyadari tak mungkin jihad untuk menegakkan syari’at Islam bisa dilaksanakan tanpa dukungan umat Islam. Masyarakat Islam di mata JI diibaratkan seperti sebuah lingkaran, di mana di dalamnya terdapat beberapa lagi lingkaran, mulai dari yang besar hingga terkecil. Di dalam lingkaran terkecil itulah anggota JI berada. Artinya, anggota JI hanya bagian kecil dari masyarakat Islam secara keseluruhan. Di lingkaran yang lebih besar terdapat umat pendukung. Mereka bukan anggota JI, tapi setuju dengan cita-cita JI menegakkan syari’at Islam, dan mereka bersedia membantu tenaga, maupun dana. DI luar ini terdapat lingkaran lain yang lebih besar yang di dalamnya diisi oleh umat simpatisan. Berbeda dengan umat pendukung, umat simpatisan ini setuju dengan gagasan  ke anggota JI. la dibantu beberapa alumni Ngruki, antara lain Ahmad Syaifullah, Bambang Sukirno dan Imtihan Syafii. Bersama Ustadz Ziad mereka berkeliling ke wakalah-wakalah untuk mensosialisasikan materi-materi pembinaan ini. Selain itu, JI juga mengadakan pelatihan khusus MTI. Setiap wakalah diwajibkan mengirimkan dua atau tiga mubalighnya untuk ikut training ini.

Binter: Dakwah dan Pesantren

Dakwah di masyarakat menjadi ujungtombak pembinaan tentorial. Untuk itu JI menyediakan tenaga-tenaga mubaligh untuk mengisi pengajian-pengajian di masyarakat. Seperti yang dilakukan Yayasan Ar Rosikhun, milik JI, di daerah Duren Sawit, Jakarta. Yayasan yang dipimpin Muhaimin Yahya ini menyediakan mubalig-mubalig yang siap dikirim untuk berdakwah ke berbagai masjid serta majelis taklim di Jakarta. Ada empat tahapan dakwah yang dilakukan JI, yaitu,

  • Tablig. Dakwah yang diberikan kepada masyarakat umum secara luas. Pesertanya tak dibatasi misalnya pengajian umum, khutbah Jum’at, khutbah Idul Fitri serta tablig akbar.
  • Taklim. Kegiatan dakwah dalam bentuk kursus-kursus agama yang jumlah pesertanya dibatasi. Misalnya kursus baca tulis Al Quran, kursus ibadah haji dan umroh, kursus bahasa Arab dan Iain-lain. Yang membedakan tahapan tabligh dengan taklim ini adalah materinya lebih spesifik dan pesertanya terbatas.
  • Tamrin. Dakwah dalam bentuk pengajian tertutup biasanya diikuti orang-orang yang sudah dikenal, dan pernah ikut tabligh dan taklim. Pesertanya dibatasi antara 5-10 orang. Pengajian ini diadakan rutin seminggu sekali dan dibimbing oleh seorang ustadz JI. Di tahapan ini materi-materi MTI diperdalam. Materi-materinya antara lain Al Islam, llmu, Iman dan Pembatal Keislaman, Ma’rifatullah (Mengenal Allah), Ma’rifatul Rasul (Mengenal Rasul), Ibadah dan Sirah (Sejarah Perjuangan Nabi).
  • Tamhish. Inilah tahapan lanjutan dari tahapan thamrin. Tamhish hanya diikuti oleh para peserta pengajian tahap sebelumnya. Kegiatan sama dengan tahapan thamrin, yaitu pengajian tertutup. Bedanya dalam materi yang diajarkan, materi-materi MTI seperti Hijrah, Jihad dan Jama’ah lmamah dan Ba’iah menjadi bahan pelajaran utama. Pada tahapan ini JI juga akan menugaskan ustadz pembimbing untuk meneliti latarbelakang peserta. Bila peserta dianggap memenuhi kriteria anggota, dan dia dianggap telah paham semua materi MTI, maka ia akan ditawarkan untuk iltizam atau bergabung dengan Jama’ah Islamiyah. Bila setuju, maka ia akan dibai’at masuk JI. Tahapan tamrin dan tamhish ini biasanya ditempuh selama satu hingga satu setengah tahun.

Selain melalui jalur dakwah, program binter dilaksanakan melalui jalur pendidikan, yaitu pesantren-pesantren. Hingga tahun 2000, JI memiliki lebih dari 15 pesantren. Di antaranya Pesantren Al Mu’min, Ngruki, pesantren Lukmanul Hakiem, Johor, Pesantren Al Mutaqien, Jepara, Pesantren Darusyahadah, Boyolali dan Iain-lain. Di pesantren-pesantren inilah, JI dengan leluasa mengajarkan berbagai doktrin-doktrin Salafy Jihadi. Proses pendidikan yang panjang mulai dari 3-12 tahun-tergantung masa pendidikan yang diikuti santri-sangat menguntungkan bagi JI, karena punya waktu yang cukup untuk menanamkan doktrin-doktrinnya kepada para santri.

Kondisi itu juga didukung oleh lingkungan pesantren yang sengaja dijadikan semacam Hukumah hlamiyah Mushoghiroh (Miniatur Pemerintahan Islam). Di lingkungan pesantren, santri dikondisikan seperti hidup di negara Islam. Semua perintah agama sebisa mungkin dilaksanakan, semua larangan agama sebisa mungkin ditinggalkan. Termasuk menjadikan lembaga pendidikan ini bebas dari maksiat, serta bebas dari segala fawahisy [hal-hal yang bisa menimbulkan kemaksiatan] seperti televisi, media massa, musik dan nyanyian. Selain itu ada sanksi hukum atas segala perbuatan maksiat. Selain itu, sanksi hukum juga diberikan kepada para santri yang tidak melaksanakan perintah agama, walaupun hukumnya dianggap sunnah, seperti tidak melaksanakan shalat jama’ah. Kondisi lingkungan seperti ini sangat mendukung proses doktrinisasi ajaran JI kepada para santri. Seorang alumni Pesantren Ngruki menceritakan,

“Dari lingkungan ponpes (pondok pesantren) inilah saya mulai melatih diri untuk mencintai Allah SWT, Rasul-Nya SAW dan Islam di atas segala-galanya, dari ponpes inilah rasa fanatik saya terhadap golongan seperti Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya menjadi luntur dan hilang-alhamdulillah-dan beralih menjadi fanatik terhadap Islam. Dalam ponpes ini juga saya memantapkan lagi apa yang selalu dipesankan oleh ayah saya bahwa hidup ini adalah akidah dan jihad (perjuangan), sebagaimana kata mutiara Ibnu Syauqi ra yang arti bebasnya sebagai berikut, “teguhlah kalian dalam hidup ini untuk mempertahankan pandanganmu sebagai seorang mujahid, sesungguhnya hidup ini adalah akidah dan jihad.

Namun mesti dicatat tak semua santri bakal direkrut menjadi anggota JI. Hanya siswa berprestasi, serta puya latar belakang keluarga yang tidak membahayakan jama’ah-misalkan, bukan datang dari keluarga polisi atau TNI—yang akan direkrut. Sementara itu, para santri yang tak bergabung JI, diharapkan bisa menjadi umat pendukung. Biasanya proses seleksi akan dilakukan pada saat siswa menempuh pendidikan setingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Siswa-siswa yang dianggap berpotensi akan diajak ikut pengajian khusus yang dipimpin oleh seorang ustadz. Materi pengajiannya berasal dari buku MTI (Materi Tahlimat hlamiyah). Setelah seluruh materi selesai dikaji, diadakan acara daurah atau kursus agama untuk mengulang kembali materi-materi MTI. Acaranya berlangsung selama 10 hari dan biasanya diselenggakan pada 10 hari terakhir bulan puasa. Daurah ini menjadi rangkaian terakhir kegiatan pembinaan calon anggota. Seorang alumni Ngruki mengatakan,

“Saya menjadi anggota organisasi Al Jama’ah Al Islamiyah sejak tahun 1994, di mana awal mulanya pada saat itu saya masih duduk di kelas 6 Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo, pada saat itu saya bersama dengan teman-teman yang lain mengikuti kajian MTI (Manhaj Taklimat Islamiyah) Organisasi Jama’ah Islamiyah yang dibawakan oleh Ustad Abdul Rohlm, Ustad Joko, Ustad Mukhlis selama lebih kurang 10 hari, setelah MTI itu berakhir saya dan temen-teman ditawari oleh Ustadz Joko untuk dibai’at sebagai anggota jama’ah Islamiyah, dan atas tawaran tersebut saya menyatakan bersedia masuk dalam Al Jama’ah al Islamiyah, untuk mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh dalam pelajaran MTI tersebut (Dalam MTI diajarkan jihad dan jama’ah). Atas jawaban saya tersebut, selanjutnya oleh ustadz Joko diatur waktunya untuk dilakukan pembai’atan, dan kemudian bai’at sebagai anggota Jama’ah Islamiyah tersebut dilakukan di rumah ustad Abdul Rohlm, dan sejak saat itu saya resmi menjadi anggota Organisasi Al Jama’ah Al Islamiyah.

Perekrutan di pesantren-pesantren ini berhasil. Seorang ustadz JI mengatakan, “Supplier terbesar anggota JI adalah pesantren-pesantren JI.